![]() |
| Ilustrasi Orang Sakit |
Oleh : Subliyanto*
Ketika duduk santai sambil nyeruput kopi bersama seseorang yang sangat saya kenal, bak air mengalir tiba-tiba beliau orang yang saya kenal tersebut, menyampaikan suara hatinya. Suara hati yang seakan menampakkan aura kepasrahan dengan beban hidup yang saat ini sedang berada dipundaknya, mengingat keluarganya yang sudah lama sakit, dan sudah menjalani pengobatan secara berkala belum ditaqdir untuk sembuh total dan sehat seperti semula.
Saya, sebagai orang yang dekat dengan beliau, yang juga tau kehidupan dalam kesehariannya, baik secara strata sosial maupun secara ekonomi juga memaklumi akan suara hati tersebut. Apalagi harus dihadapkan dengan biaya sehat saat ini yang sudah tentu juga sangat mahal. Sementara sumber ekonomi yang menjadi rutinitasnya juga sangat ekonomis.
Sontak diskusi itu mengingatkan saya juga pada goresan pena yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu yang juga membahas tentang sakit, yang tentu juga tulisan itu berdasarkan latar belakang yang serupa kendatipun tidak sama. Namun yang menjadi nilai penting disini adalah ibrah atau pelajaran serta hikmah yang dapat kita ambil.
Sakit merupakan sebuah anugrah yang harus kita syukuri, karena dengan sakit kita bisa muhasabah diri. Dan tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, karena Allah menciptakannya beserta obatnya. Dan bentuk syukur ketika kita sakit adalah dengan nendekatkan diri kepada Allah, Tuhan pemberi segala macam nikmat, termasuk sakit. Maka istighfar dan alQur'an merupakan jalan dekat kepadaNya.
Kalau kita diagnosa sebetulnya sakit yang kita alami bermula dari mana ?
Sesungguhnya sakit yang kita alami bermula dari jiwa, dalam hal ini hati, akal dan pikiran yang kemudian merambat pada raga kita. Raga hanyalah kerangka jiwa kita. Dan jiwalah yang menggerakkannya. Maka benarlah sabda Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam :
"Idza soluhat soluhat jasadu kulluh, wa idza fasadat fasadat jasadu kulluh, ala wahiyal qalbu"
Hati atau jiwa merupakan hal utama dalam tubuh kita, maka perlu kita jaga kesuciannya dari hal-hal yang dapat mengotorinya. Bahkan, Prof. Dr. Mohammad Shaleh telah melakukan penelitian akan hal tersebut sehingga melahirkan terapi medisnya yang dikenal dengan terapi shalat tahajjud.
Maka sadarilah bahwa segala sesuatu yang terjadi pada raga kita hakikatnya adalah faktor jiwa kita.
Dan terapinya adalah dengan memelihara jiwa kita agar tetap stabil dan steril. Sehingga raga kitapun dalam kondisi yang sehat. Hal itu tentunya juga dengan dorongan asupan makanan yang halal dan menyehatkan .Jiwa yang dimaksud adalah hati sebagai penggerak semuanya.
Bagi orang beriman sakit adalah nikmat, maka ia menikmatinya dan tetap istiqamah di jalanNya.
Banyak manusia yang sehat, namun tertipu dengan kesehatannya. Ia tidak gunakan kesehatannya untuk taat, namun untuk maksiat. Rasulullah bersabda : "Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Al-Bukhari)
Sementara di luar sana ada sebagian orang yang ingin melakukan ketaatan, namun tak mampu melakukannya dikarenakan sakit yang di derita. Padahal badan yang sehat akan ditanyakan, digunakan untuk apa. Apakah digunakan untuk mendatangi majelis ilmu ataukah mendatangi tempat-tempat maksiat. Barulah kita tersadar ketika terbaring lemah tak berdaya karena sakit, sehingga sesal pun tak terelakkan.
Maka berbaik sangka kepada Allah merupakan satu-satunya jalan untuk kembali mensterilkan jiwa kita. Karena sesungguhnya kita dan semua yang melekat pada diri kita adalah milikNya, dan kepadaNya jualah kita akan kembali.
Sebagai pamungkas, semoga kita senantiasa selalu dalam kondisi sehat, baik lahir dan batin sehingga tetap bisa berkarya sebagai wujud syukur kita kepada Allah, Tuhan yang maha Esa. Wallahu a'lam... []

0 Komentar