Oleh : Subliyanto

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW. yang menerangi kegelapan dengan cahaya islam.

Ramadan merupakan bulan yang mulia, dimana di dalamnya diturunkannya berkah, rahmat dan maghfirah bagi insan yang beriman dan senantiasa mengimplementasikannya dalam bentuk ketaatan kepada Allah, Tuhan semesta alam. Dan tanpa terasa, sebentar lagi Ramadhan kali ini akan pergi.

Tentu kepergian bulan yang penuh dengan rahmat dan maghfirah ini, yang hadirnya hanya sekali dalam setahun membuat kita akan merindukannya kembali di tahun berikutnya. Berharap, semoga Allah senantiasa memberkahi umur kita sehingga dapat berjumpa di Ramadhan berikutnya. Maka, sebelum terlambat, patut kiranya kita optimalkan detik-detik kepergian Ramadhan kali ini dengan hiasan amal shaleh sebagaimana telah banyak disampaikan dan dicontohkan oleh Nabiyullah Muhammad SAW. Terlebih pada sepuluh terakhir Ramadhan.

Membahas kepergian bulan suci Ramadhan, juga sudah tentu terbayang di benak kita tentang hari raya 'Idul Fitri yang bisa dikatakan sudah berada di depan mata. Maka, sebelum terlambat, patut kiranya kita optimalkan detik-detik kepergian Ramadhan kali ini dengan hiasan amal shaleh sebagaimana telah banyak disampaikan dan dicontohkan oleh Nabiyullah Muhammad SAW. Terlebih pada sepuluh terakhir Ramadhan.

Salah satu dari sekian keistimewaan bulan Ramadhan adalah malam "Lailatur Qadar". Yaitu suatu malam dimana keutamaannya lebih baik dari seribu bulan. Hal itu sebagaimana telah Allah firmankan :

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Qadar). Dan taukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhanya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar". (QS. al-Qadar : 1-5)

Dari ayat ini kita dapat melihat betapa mulianya malam satu ini. Dan tentu semua manusia beriman mendambakan untuk mendapatkannya. Tentu hal itu dengan upaya optimalisasi amalan 'ubudiyah pada bulan Ramadahan, seperti tilawah al-Qur'an, berdzikir, berdo'a, bershadaqah, serta beri'tikaf di malam sepuluh terakhir Ramadhan.

Kendatipun waktu malam "Lailatur Qadar" berbeda pendapat di kalangan para ulama'. Namun perbedaan tersebut mayoritas bersandar pada sabda Nabiyullah Muhammad SAW. Beliau bersabda :

"Aku melihat "Lailatur Qadar", lalu aku dibuat lupa kapan waktunya, maka barangsiapa yang ingin mencarinya, maka carilah pada sepuluh hari terakhir". (HR. Bukhari).

Untuk itu kisi-kisi peluang yang telah Rasulullah SAW. sampaikan ini hendaknya kita optimalkan dengan memperbanyak amal shaleh, dengan harapan semoga kita mendapatkannya. Sehingga gelar muttaqin kita dapatkan, dan tropi sebagi pemenang layak disematkan pada diri kita pada hari yang fitri. 

Lantas kapan hari raya Idul Fitri pada tahun ini (1447 H/2026M) ? 

Maka, untuk menjawab pertanyaan tersebut, secara mudahnya merujuk pada hadits berikut :

Dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda, "Berpuasalah kamu bila sudah melihat hilal (bulan Ramadhan), dan berbukalah kamu bila sudah melihat hilal (bulan Syawal). Jika mendung atas kalian, maka genapkanlah bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari". ( Muttafaqun 'Alaih : Muslim II : 762, No. 19 dan 1081 dan ini lafazdnya, Fathul Bari IV : 119 No. 1909 dan Nasa'i IV : 133) (Sumber : Al-Wajiz, Ensiklopedi Fiqih Islam dalam al-Qur'an dan as-Sunnah as-Shahihah, halaman : 388).

Hadits di atas merupakan landasan pokok dari penenetuan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal, dimana hal tersebut sudah menjadi domain rutinitas pemerintah melalui sidang "Istbat"nya yang rutin digelar tiap momentum menjelang awal Ramadhan dan menjelang awal Syawal sebagai pedoman umum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kendatipun dalam faktanya kecenderungan perbedaan selalu ada. Namun hal itu adalah keniscayaan dan jangan jadikan ajang perpecahan sesama muslim walaupun beda loggo dan warna.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan terlebih sesama muslim, hendaknya saling menguatkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah islamiyah dalam bingkai "bikhuluqin hasanin" guna terwujudnya "'Izzatul Islam wal muslimin" dan "Baldatun Thayyibah wa rabbun ghafur".

Menyikapi perbedaan yang terjadi pada momentum penetapan awal Ramadhan tahun ini (1447 H/2026 M), maka berikut penulis sajikan pesan dari salah satu tokoh agama terkemuka yang sempat penulis rekam dalam catatan jurnalisme penulis beberapa tahun yang lalu ;

Baca : Bachtiar Nasir ; Jagalah Persatuan dan Persaudaraan 

"Indonesia sedang diuji dengan persaudaraan". Demikian disampaikan oleh Bachtiar Nasir, Lc. MM, pada kegiatan Tabligh Akbar di Gresik Jawa Timur. (Ahad, 14 Mei 2017)

Kegiatan yang mengusung tema “ Memperkokoh Sinergi Untuk Menyatukan Potensi Umat Islam” tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Muhammadiyah GKB Gresik, dan bertempat di SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik, dengan menghadirkan penceramah Ust. Bachtiar Nasir, Lc.MM.

Dalam tausyiahnya, Bachtiar Nasir berpesan kepada umat islam agar menjaga persatuan dan persudaraan, karena menurutnya, saat ini Indonesia sedang diuji dengan persaudaraan.

“Indonesia sedang diuji dengan persaudaraan. Maka jagalah persatuan dan persaudaraan”. Pesan Bachtiar.

Bachtiar juga menambahkan, bahwa umat islam harus bersyukur, karena semakin banyak ujian yang menimpa umat islam akhir-akhir ini, umat islam semakin bersatu dan semakin kuat. 

Namun demikian Bachtiar juga berpesan agar umat islam tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, karena islam adalah agama yang damai, yang membawa rahmat bagi seluruh alam. 

“Bukan karakter seorang muslim yang memaksakan kehendak kepada orang lain, karena islam adalah agama yang damai”. pesannya.

Ada tiga hal menurut Bachtiar agar persatuan dan persaudaraan umat islam semakin kuat. Pertama ikutilah fatwa ulama’. Kedua taat dan tunduk kepada pemimpin. Dan ketiga memuliakan lembaga-lembaga keilmuan islam.

Menurutnya, jika umat islam bisa melaksanakan tiga hal di atas, maka persatuan dan persaudaraan akan terjaga dan semakin kokoh. 

Namun sebaliknya jika umat islam tidak taat dan tunduk kepada ulama, bukan tidak mustahil pertumpahan darah antar saudara akan terjadi, karena yang demikian itu memang sudah menjadi bidikan musuh-musuh islam saat ini.

Semoga dengan catatan singkat ini dapat menjadi amunisi tambahan bagi kita sebagai umat Islam dalam memperkokoh ukhuwah islamiah kita. Wallahu a'lam bis shawab [*]