Telusuri

Cintailah Ilmu Kendatipun Kita Sudah Uban

Oleh : Subliyanto*

(Catatan Khusus HUT ke-40 Subliyanto. Rabu, 17 Rajab 1447 H)

***

Ada kebiasaan sebagian manusia ketika umurnya bertambah merayakannya dengan perayaan ulang tahun. Perayaan yang dilakukan beraneka ragam caranya sesuai dengan pemahaman masing-masing. Namun terlepas dari hal yang kontroversial itu, yang perlu kita pahami adalah hakikat dari bertambahnya umur itu sendiri. Walaupun secara hitungan matematis semakin bertambah umur manusia pada hakikatnya semakin berkurang dan semakin dekat menghadapi kematian. Karenanya perlu kita mensyukurinya dan memanfaatkan sebaik-baiknya.

“Selamat ulang tahun, semoga panjang umur.” Kalimat ini sudah lazim kita dengar ketika seseorang berulang tahun. Lantas bagaimana sebenarnya penjelasan dari kalimat tersebut ?

Berdasarkan kajian penulis ditemukan penjelasan bahwa orang yang panjang umurnya adalah orang yang menghiasi hidupnya dengan amal shaleh. “Man kana ‘umuruhu ma’muratan bil a’malis shalihat”. Dari penjelasan singkat tersebut, masihkah kita akan menyia-nyiakan umur kita ? Maka sebagai orang beriman yang yakin akan kehidupan yang sesungguhnya tentunya kita tidak akan membiarkan sisa umur kita akan berlalu begitu saja. Maka sudah seharusnya kita memanfaatkannya untuk beramal shaleh dan terus bergerak berlomba-lomba dalam kebaikan.

Berbincang tentang umur maka sangat erat kaitannya dengan masalah kematian. Umur dan kematian bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dan sebaik-baiknya nasehat adalah nasehat kematian, karena kematian adalah rahasia Tuhan, Allah Rabbul ‘Alamain. Tidak satupun diantara kita yang mengetahuinya. Ia (kematian) bisa datang kapan saja dan dimanapun kita berada.

Allah berfirman : “….Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya). (Q.S Yunus: 49)”.

Ketika kita berada di bangku Sekolah, mungkin kita sering mendengar motivasi dari guru kita bahwa “belajarlah sampai kita mati”. Motivasi tersebut merupakan penjelasan tentang urgensi belajar. Ilmu yang harus kita pelajari sangatlah banyak, bahkan saking banyaknya umur kitapun tidak cukup untuk mencarinya. Karenanya rugi kalau kita tidak memanfaatkan umur kita untuk senantiasa terus belajar. Tentu tidak semuanya harus melalui jalur formal, karena hal itu tidak semuanya bisa kita jangkau dengan kondisi kita yang beragam.

Tradisi cinta ilmu sejatinya sudah menjadi ciri khas seorang Muslim. Hal demikian sudah dicontohkan oleh para ulama’ terdahulu yang tekun dalam mencari ilmu hingga melahirkan karya-karya yang menjadi pedoman hingga sekarang. Maka tidak heran jika suatu hari Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya ketika rambut beliau sudah tampak memutih, “Sampai kapan Engkau masih bersama dengan wadah tinta?” Maksudnya, orang tersebut heran ketika Imam Ahmad rahimahullah tetap bersama dengan alat-alat untuk mencari ilmu seperti kertas dan wadah tinta, padahal usia beliau tidak lagi muda. Sehingga dikatakan dalam sebuah kalimat yang terkenal, “Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur”.

Mungkin kisah itu sudah menjadi catatan klasik, tapi makna yang tersirat sangatlah menarik dan mengandug makna yang sangat energik. Sehingga buah karyanya menjadi pedoman hidup para generasi setelahnya. Dan tentu yang demikian juga perlu ditiru jejaknya guna melahirkan generasi yang setara walaupun tidak sama dan tidak akan pernah sama.

Maka kisah-kisah tersebut jangan hanya kita jadikan sebagai kisah populer semata, akan tetapi kita jadikan sebagai kisah fakta yang tersirat hikmah di dalamnya, terlebih oleh para generasi penerus bangsa calon pewaris perjuangan dalam menata dan mengelola bangsa dan negara dengan segudang problem yang ada di dalamnya.

Diam bukanlah sebuah solusi walaupun diam belum tentu sunyi. Bergerakpun juga bukanlah solusi jika gerakan kita tidak tentu arah dan tujuan yang berarti. Maka memadukan keduanya dengan ilmu adalah energi yang akan dapat merubah segalanya. Hal demikian sudah Rasulullah wasiatkan sebagaimana termaktub dalam haditsnya :

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi).

Perkembangan informasi dan teknologi serta pesatnya media yang menghiasinya tentu menjadi wadah buat para generasi untuk berkreasi, mengekspresikan dan mengeksplorasikan gagasan-gagasan cemerlang menuju masa depan yang gemilang. Maka hal ini menjadi peluang besar khususnya anak muda untuk terus belajar mengais ilmu sebanyak-banyaknya sampai pada titik tiga, yang artinya dalam ilmu matematika adalah tidak terhingga, jangan hanya dijadikan sebagai alat untuk publikasi diri tanpa nilai yang berarti. Merasa sulit sudah pasti, tapi lebih sulit lagi jika kita tidak pernah memulai.

Semoga catatan singkat ini dapat menambah motivasi bagi saya pribadi yang sudah genap berusia 40 tahun, dan juga para generasi, baik generasi biologis maupun generasi edukatif guna lahir para generasi yang hebat di masa yang akan datang.[*] 

Posting Komentar

0 Komentar