Sabtu, 19 Februari 2011

Fungsi Bimbingan DI Sekolah

Fungsi utama bimbingan adalah membantu murid dalam masalah-masalah pribadi dan sosial yang berhubugan dengan pendidikan dan pengajaran atau penempatan, dan juga menjadi perantara dari dalam hubungannya dengan para guru maupun tenaga administrasi.
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (1991: 112) berpendapat bahwa fungsi bimbingan terdiri dari 4 macam, yaitu :
a. Preservatif yaiutu Memelihara dan membina suasana dan situasi yang baik dan tetap diusahakan terus bagi lancarnya belajar mengajar.
b. Preventif yaitu Mencegah sebelum terjadinya masalah.
c. Kuratif yaitu mengusahakan “penyembuhan” pembetulan dalam mengatasi masalah.
d. Rehabilitasi yaitu mengadakan tindak lanjut secara penempatan sesudah diadakan perlakuan yang memadai.

Yusuf dan Catherine (1992:42) berpendapat mengenai fungsi bimbingan yang dapat diartikan sebagai sifat bimbingan, yaitu: memahami individu, preventif dan pengembangan individu, membantu individu untuk menyempurnakan cara-cara penyelesaiannya.

Dalam kurikulum 1975 mengenai Pedoman mengenai Pedoman bimbingan yang dipakai di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), bimbingan dan penyuluhan berfungsi sebagai :
a. Penyaluran, yang memberikan bantuan kepada siswa untuk mendapatkan lingkungan yang sesuai dengan keadaan dirinya.
b. Pengadapatasiaan, yang memberikan bantuan kepada sekolah untuk menyesuaikan program pengajaran dengan diri siswa.
c. Penyesuaian, yang memberikan bantuan kepada siswa untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang baru.
d. Pencegahan, yang memberikan bantuan kepada siswa untuk menghindari kemungkinan terjadinya hambatan dalam perkembangannya.
e. Perbaikan, yang memeberikan bantuan kepada siswa untuk memperbaiki kondisi yang dipandang kurang sesuai.
f. Pengembangan, yang membantu siswa untuk melampaui proses perkembangan dan fase perkembangan secara wajar. ( dalam Yusuf dan Chaterine 1992:45).

Prayitno dan Erman Amti (1999: 197) berpendapat bahwa, fungsi bimbingan dan konseling ditinjau dari kegunaan atau manfaat ataupun keuntungan-keuntungan apa yang diperoleh melalui pelayanan tersebut. Fungsi-fungsi itu banyak dan dapat dikelompokan menjadi empat fungsi pokok, yaitu : (a) fungsi pemahaman, (b) fungsi pencegahan (c) fungsi pengentasan, (d) fungsi pemeliharaan dan (e) fungsi pengembangan.

Sedangkan fungsi bimbingan menurut W.S Winkel (1991 : 85-86) adalah :
a. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan serta membantu siswa mendapat program studi yang sesuai baginya dalam rangka kurikulum pengajaran yang disediakan di sekolah.
b. Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan yang membantu siswa menemukan cara menempatkan diri secara tepat dalam berbagai keadaan dan situasi yang dihadapi.
c. Fungsi pengadapatasian, yaitu fungsi bimbingan sebagai nara sumber bagi tenaga-tenaga pendidikan yang lain di sekolah.

Sementara Hellen (2002 : 60-62), mengatakan bahwa fungsi bimbingan dan konseling adalah :
a. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasikan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik.
b. Fungsi pencegahan; yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan, kerugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.
c. Fungsi Pengentasan, istilah fungsi pengentasan ini dipakai sebagai sebagai pengganti istilah fungsi kuratif atau fungsi terapeutik dengan arti pengobatan atau penyembuhan.
d. Fungsi Pemeliharaan dan pengembangan, adalah fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan terpeliharanya dan terkembangannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara terarah, mantap, dan berkelanjutan.
e. Fungsi Advokasi, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teradvokasi, yaitu atau pembelaan terhadap peserta didik dalam rangka upaya pengembangan seluruh potensi secara optimal.
f. Layanan Bimbingan dan Konseling Sekolah

Berdasarkan pendapat Shertzer dan Stone, Ryan dan Zeran (dalam Yusuf dan Chatherine 1992 : 81-82), komponen layanan bimbingan di sekolah dinyatakan sebagai berikut:
a. Komponen analisis individu, yaitu pengumpulan data siswa yang akan dianalisis dan dipakai untuk berbagai tujuan, khususnya untuk membantu anak agar lebih mengerti dirinya sendiri.
b. Komponen layanan informasi direncanakan untuk memberikan pengetahuan yang luas kepada para siswa meliputi informasi tentang pendidikan, pekerjaan, dan sosial pribadi. Dengan demikian para siswa dapat memilih dan memutuskan secara bijaksana dan dapat berkembang dalam masyarakat yang kompleks.
c. Komponen bimbingan karir direncanakan untuk membantu siswa melihat kemampuan dirinya dan lingkungan pekerjaannya, memikirkan, memutuskan dan mrencanakan pekerjaan yang akan datang dan memecahkan masalah yang timbul kelak.
d. Komponen perencanaan, penempatan dan tindak lanjut direncanakan untuk menyempurnakan para siswa dengan menggunakan semua kesempatan yang tersedia baik disekolah maupun yang ada di pasaran kerja.
e. Komponen konseling direncanakan untuk membantu siswa agar semakin mengerti dirinya dan mengembangkan dirinya melalui hubungan individual dan hubungan kelompok.
f. Komponen konsultasi direncanakan untuk memberikan bantuan teknis kepala sekolah, atau staf administrasi sekolah dan orang tua agar mereka semakin memahami siswa dan anaknya serta mengembangkan sekolah sebagai suatu sistem.
g. Komponen evaluasi direncanakan untuk mengetahui efektifitas program bimbingan di sekolah.

Sedangkan Hellen (2002 : 81-88) berpendapat bahwa layanan bimbingan dan konseling yaitu :
a. Layanan orientasi, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasukinya, dalam rangka mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu.
b. Layanan informasi, layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memahami berbagai informasi yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan peserta didik (klien).
c. Layanan Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat sesuai dengan potensi, bakat, dan minat serta kondisi pribadi.
d. Layanan pembelajaran, adalah layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memahami dan mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, keterampilan dan materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta tuntutan kemampuan yang berguna dalam kehidupan dan perkembangan optimal dirinya.
e. Layanan konseling perorangan, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dideritanya.
f. Layanan bimbingan kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu yang berguna untuk menunjang pemahaman dan kehidupannya sehari-hari dan atau untuk perkembangan dirinya baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, dan untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan atau tindakan tertentu.
g. Layanan konseling kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok.

Hellen (2002 : 76-80) pun berpendapat tentang kegiatan bimbingan di sekolah yang mencakup 4 macam, yaitu:
a. Bimbingan pribadi. Pelayanan ini membantu siswa menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mantap dan mandiri serta sehat jasmani dan rohani.
b. Bimbingan sosial. Berusaha membantu peserta mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya yang dilandasi budi pekerti, tanggung jawab kemasyaraktan dan kenegaran.
c. Bimbingan belajar. Pelayanan yang membantu peserta didik untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai pengetahuan dan ketrampilan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian serta mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi atau untuk terjun ke lapangan pekerjaan tertentu.
d. Bimbingan karir. Pelayanan yang ditujukan untuk mengenal potensi diri, mengembangkan dan memantapkan pilihan karier.
Selain itu Hellen (2002 : 89-94) juga berpendapat bahwa ada 5 macam kegiatan pendukung dalam bimbingan dan konseling, yaitu ;
a. Aplikasi instrumentasi, bertujuan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang pesera didik.
b. Himpunan data, yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data perlu diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif terpadu dan sifatnya tertutup.
c. Konferensi kasus, berguna untuk membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai pihak yang diharapkan dapat memberikan bahan, keterangan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan tersebut.
d. Kunjungan Rumah, yaitu untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan kerumahnya.
e. Alih tangan kasus. Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialami peserta didik dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya.

0 komentar: