Cari disini

Memuat...

Rabu, 09 Juni 2010

Ruang Lingkup, Tujuan, Kegunaan, Dan Metode Filsafat Pendidikan Islam

PENDAHULUAN

Mempelajari filsafat pendidikan Islam sangatlah penting terutama bagi mereka yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam, karena dengan mempelajari filsafat pendidikan Islam seseorang dapat memperoleh manfaat yang sangat besar darinya. Hal ini dapat dirasakan ketika orang tersebut berkecimpung langsung di dalam dunia pendidikan, yang disana terdapat permasalahan-permasalahan yang harus diselesaikan dengan mempelajari filsafat pendidikan Islam.
Mengingat pentingnya mempelajari filsafat pendidikan Islam, di dalam makalah ini dijelaskan bagian dari filsafat pendidikan Islam diantaranya, ruang lingkup, kegunaan/tujuan, dan metode filsafat pendidikan Islam.

A. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematis, logis dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan Agama Islam saja, melainkan menuntut kepada kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan . Sebagai hasil buah pikiran bercorakkan khas Islam, filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumberkan atau melandaskan ajaran agama Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam, serta mengapa manusia harus dibina menjadi hamba Allah yang berkepribadian demikian. Sarana dan upaya apa sajakah yang dapat mengantarkan pencapaian cita-cita demikian dan sebagainya.
Menurut Muzayyin Arifin, ruang lingkup filsafat pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti msalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode dan lingkungan.
Secara umum ruang lingkup pembahasan filsafat pendidikan islam ini adalah pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu, menyeluruh, dan universal mengenai konsep-konsep yang berkaitan dengan pendidikan atas dasar ajaran Islam.


B. Tujuan/Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Bila dilihat dari fungsinya, maka filsafat pendidikan Islam merupakan pemikiran mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan Islam. Oleh karana itu filsafat ini juga memberikan gambaran tentang sampai dimana proses tersebut direncanakan dan dalam ruang lingkup serta dimensi bagaimana proses tersebut dilaksanakan. Masih dalam fungsinalnya, filsafat pendidikan Islam juga bertugas melakukan kitik-kritik tentang metode-metode yang digunakan dalam proses pendidikan Islam itu serta sekaligus memberikan pengarahan mendasar tentang bagaimana metode tersebut harus didayagunakan atau diciptakan agar efektif untuk mencapai tujuan.
Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam seharusnya bertugas dalam tiga dimensi yakni:
1. Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanan pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam.
2. Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksaaan tersebut.
3. Melakukan evaluasi terhadap metode dari proses pendidikan tersebut.
Filasfat pendidikan Islam, menunjukkan problema yang di hadapi oleh pendidikan Islam, sebagai dari hasil yang mendalam, dan berusaha untuk memahami duduk masalahnya. Dengan analisa filsafat, maka filsfat pendidikan Islam bisa menunjukkan alternative-alternatif pemecahan maslah tersebut. Setelah melalui proses seleksi terhadap alternative-alternatif tersaebut, yang mana yang paling efektif, maka dilaksanakan alternative tersebut dalam praktek kependidikan.
Filsafat pendidikan Islam memberikan pandangan tertentu tentang manusia (menurut Islam). Pandangan tentang khakikat manusia tersebut berkaitan engan tujuan hidup manusia dan sekaligus juga merupakan tujuan pendidikan menurut Islam. Filsafat pendidikan berperan untuk menjabarkan tujuan umum pendidikan Islam tersebut dalam bentuk-bentuk khusus yang opersssasional. Dan tujuan yang yang operasional ini berperan untuk mengarahkan secara nyata gerak dan aktivitas pelaksanaan pendidikan.
Filsafat penddikan Islam dengan analisanya terhadapa hakikat hidup dan kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan yang harius ditumbuhkan dan dikembangkan. Filsafat pendidikan Islam menunjukkan bahwa potensi pembawaan manusia tidak lain adalah sifat-sifat Tuhan, atau Al asma’ al husna, dan dalam mengembangkan sifat-sifat Tuhan tersebut dalam kehidupan kongkret, tidak boleh mengarah kepada menodai dan merendahkan nama dan sifat Tuhan tersebut. Hal ini akan memberikan petunjuk pembinaan kurikulum yang sesuai dan peangaturan lingkungan yang diperlukan.
Filsafat pendidikan Islam. Dalamanalisannya terhadap masalah-masalah pendidikan masa kini yang dihadapnya, akan dapat memberikan informasi apakh proses pendidikan Islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan Islam yang ideal, atau tidak. Dapat merumusklan di mana letak kelemahannya, dan dengan demikian bisa memberikan alternative-alternatif perbaikan dan pengembangannya.
Menurut Ahmad D. Marimba, Filsafat pendidikan dapat menjadi pegangan pelaksanaan pendidikan yang menghasilkan generasi-generasi baru yang berkepribadian muslim.
Memberi petunjuk bahwa filsafat pendidikan islam selain menjadi acuan bagi pendidikan dalam menghasilkan generasi yang islami.
Filsafat pendidikan itu dapat menolong perancang-perancang pendidikan dan orang-orang yang melaksanakannya dalam suatu Negara untukmembentuk pemikiran sehat terhadap proses pendidikan. Disamping itu dapat menolong terhadap tujuan-tujuan dan fungsi-fungsinya serta dapat meningkatkan mutu penyelesaian masalah pendidikan dan peningkatan tindakan dan keputusan termasuk rancangan-rancangan pendidikan mereka, begitu juga untuk memperbaiki peningkatan pelaksanaan pendidikan serta kaidah dan cara mereka mengajar yang mencakup pemilaian, bimbingan, dan penyuluhan. Kajian falsafah pendidikan, disamping memberikan pengkajian pandangan yang menyeluruh dan mendalam, juga memberi segi yang luas yang dapat memandang kepada pendidikan. Dari situ filsafat pendidikan itu memiliki masalah-masalah dan menilai teori-teori, sikap dan usaha-usaha pendidikan.
Filsafat pendidikan dengan pandanganpendidikan yang sebenarnya dianggap sebagian dari padanya dapat menjadi asas yang terbaik untuk penilaian pendidikan dalam arti yang menyeluruh. Penilaian pendidikan itu dianggap persoalan yang perlu bagi setiap pengajaran yang baik dalam pengertian yang baru penilaian pendidikan meliputi segala usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh sekolah, institusi-institusi pendidikan secara umum untuk mendidik angkatan baru dan warga negara dan segala yang berkaitan dengan itu. Jadi konsep penilian tidak hanya penilaian pencapaian sekolah bagi murid-murid atau pelajar-pelajar saja. Sudah tentu penilaian disertai dengan adanya ukuran-ukuran dan norma-norma yang menjadi dasarnya. Maka setiap program sekolah, kaedah mengajar, alat mengajar dan kepentingan sekolah, pelaksanaan, serta rancangan pengajaran dapat diukur kegunaannya. Sehingga sesuai dengan filsafat pendidikan yang telah ditentukan.
Jadi seharusnyalah filsafat pendidikan dan amalan pendidikan dan pengajaran mendapat pengharagaan dan penghormatan dari pihak pelajar-pelajar, guru-guru dan orang yang bekerja dalam bidang pndidikan, dan ini selanjutnya akan memberi kepada mereka sandaran intelektual yang digunakannya untuk membela tindakan-tindakan mereka dalam bidang pendidikan dan pengajaran dalam melaksanakan filsafat tersebut. Ini juga dapat membimbing mereka ditengah-tengah kancah pertarungan pikiran dan filsafat umum yang menguasai dunia baru dan ditengah-tengah pandangan pendidikan yang bermacam-macam. Begitu juga ia dapat menolong mereka untuk menjawab berbagai persoalan yang timbul diantara mereka.
Seharusnya penentuan filsafat pendidikan bagi sistem pendidikan kita ini memberi corak dan pribadi khas dan istimewa sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama kita dan nilai-nilai umat Islam dan dengan kebudayaan dan suasana perekonomian, social, dan politik serta dengan tuntuna-tuntunan masal tempat kita hidup sekarang. Jadi penentuan filsafat pendidikan kita sudah pastiakan akan menolong untuk memberikan pendalaman pikiran bagi pendidikan kita dan akan mengaitkannya dengan faktor-faktor spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan politik di negri kita dan dengan kebijaksanaan yang telah kita rancangkan bagi kita sendiri dalam berbagai bidang kehidupan.
Inilah diantara manfaat yang terpenting yang dapat kita peroleh dari menentukan, memahami, dan mengkaji filsafat pendidikan. Ada lagi manfaat dan fungsi-fungsi lain yang mungkin dibawa oleh filsafat pendidikan dan juga telah diterangkan oleh banyak diantara penulis-penulis filsafat pendidikan.
C. Metode Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat pendidikan Islam ada yang bercorak tradisional dan dapat pula bercorak filsafat kritis. Pada filsafat pendidikan Islam yang bercorak tradisional, tentunya tidak dapat dipisahkan dengan aliran madzhab filsafat yang pernah berkembang dalam dunia Islam. Dalam hal ini, filsafat pendidikan Islam berusaha menganalisa pandangan aliran-aliran yang ada terhadap masalah-masalah kependidikan yang dihadapi pada masanya dan bagaimanaimplikasinya dalam filsafat pendidikan Islam. Sedangkan pada filsafat pendidikan yang bercorak kritis, maka dalam hal ini disamping menggunakan metode-metode filsafat pendidikan Islam sebagaimana yang telah berkembang dalam dunia Islam, juga menggunakan metode fisafat pendidikan yang berkembang dalam dunia filsafat pada umumnya.
Filsafat Islam dalam memecahkan problema pendidikan Islam (Problema pendidikan yang dihadapi umat Islam) dapat menggunakan metode-mtode antara lain:
a. Metode spekulatif dan kontemlatif yang merupakan metode utama dalam setiap cabang filsafat. Dalam system filsafat Islam disebut tafakkur. Baik kontemplatif maupun tafakkur, adalah berfikir secara mendalam dan dalam situasi yang tenang, sunyi, untuk mendapatkan kebenaran tentang hakikat sesuatu yang dipikirkan. Dan oleh karenanya berkaitan dengan masalah-masalah yang abstrak, misalnya hakikat hidup menurut Islam, hakikat iman, Islam, Sifat Tuhan, takdir, malaikat dan sebagainya.
b. Pendekatan normatif . Norma, artinya nilai juga berarti aturan atau hukum-hukum. Norma menunjukkan keteraturan suatu system. Nilai juga menunjukkan baik buruk, berguna tidak bergunanya sesuatu. Norma juga akan menunjukkan arah gerak suatu aktivitas.
Menurut filsafat Islam, sumber nilai adalah Tuhan dan berntuk nor,ma akan mengarahkan manusia kepada Islam. Pendekatan normative dimaksudkan adalah mencari dan menetapkan aturan-aturan dalam kehidupan nyata, dalam filsafat Islam bisa disebut sebagai pendekatan syari’ah, yaitu mencari ketentuan dan menetapkan ketentuan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh menurut syari’at Islam. Objeknya adalah berkaitan dengan tingkah laku dan amal perbuatan metode ijtihad dalam fiqh seperti istihsan, masalah mursalah al’adah muhakkamah, adalah merupakan contoh-contoh metode yang normatif ini dalam sistem filsafat Islam.
c. Analisa konsep yang juga disebut sebagai analisa bahasa. Konsep, berarti tangkapan atau pengertian seseorang terhadap suatu objek. Pengertian seseorang selalu berkaitan dengan bahasa, sebagai alat untuk mengungkapkan pengertian tersebut. Pengertian tentang suatu objek dirumuskan dalam bentuk definisi yang menggunakan bahasa atau kalimat tertentu. Kata-kata, kalimat dan bahasa pada hakikatnya merupakan kumpulan dari pengertian-pengertian, dari konsep-konsep. Konsep seseorang tetang sesuatu objek berbeda antara satu dengan lainnya, dan konsep inipun dibatasi oleh waktu dan tempat, al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi adalah juga menggunakan bahasa manusia, yang berarti juga merupakan kumpulan dari konsep-konsep yang bisa dimengerti oleh manusia. Dalam sistem filsafat islam, menafsirkan dan juga menta’wilkan ayat-ayat al-Qur’an, merupakan praktek konkret dari pendekatan analisa konsep atau analisa bahasa. Ajaran Islam penuh dengan konsep-konsep filosofis tentang hidup dan kehidupan manusia, seperti iman, ihsan, amal soleh, taqwa bahagia, dan sebagainya. Semuanya adalah menjadi problema pendidikan Islam.
d. Pendekatan historis. Histori artinya sejarah, yaitu mengambil pelajaran dari peristiwa dan kejadian masa lalu. Suatu kejadian atau peristiwa dalam pandangan kesejarahan terjadi karena hubungan sebab akibat, dan terjadi dalam suatu setting situasi kondisi dan waktunya sendiri-sendiri. Dalam sistem pemikiran filsafat, pengulangan sejarah (peristiwa sejarah) yang sesungguhnya tidak mungkin terjadi. Perisiwa sejarah berguna untuk membearikan petunjuk dalam membina masa depan. Dengan demikian peristiwa-peristiwa bersejarah banyak manfaatnya untuk pendidikan. Ayat-ayat al-Qur’an banyak menganjurkan untuk mengambil pelajaran dari sejarah. Dalam sistem filsafat Islam penggunaan Sunnah Nabi SAW sebagai sumber hukum, penelitian-penelitian akan hadits-hadits yang menghasilkan pemisahan antara hadits palsu dan hadits sahih, peda hakikatnya merupakan contoh praktis dari peggunaan analisa historis dalam filsafat pendidikan Islam.
e. Pendekatan Ilmiah terhadat masalah aktual, yang pada hakikatnya merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berfikir rasional, empiris dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat dalam Islam. Pendekatan ini tidak lain adalah merupakan realisasi dar ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa:
“Allah tidak akan mengubah nasib suatua kaum, sehingga kaum itu sendirilah yang berusaha untuk mengubahnya.” (Q.S. al-Ra’d: 11)
Usaha mengubah keadaan atau nasib tidak mungkin bisa terlaksana kalau seseorang tidak memahami permasalahan-permasalahan actual yang dihadapinya. Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha untuk menguba keadaan atau nasib tersebut. Dan ini adalah merupkan problema pokok filsafat pendidikan masa sekarang.
f. Dalam sistem filsafat Islam, pernah pula berkembang pendekatan yang sifatnya komprehensip dan terpadu, antara sumber-sumber aklli, naqli dan imani, sebagaimana yang nampak dekembangkan oleh al-Ghazali. Menurut al-Ghazali, kebenaran yang sebenarnya, yaitu kebenearan yang diyakininya betul-betul mearupakan kebenaran. Kebenaran yang mendatangkan keamanan dalam jiwa, bukan kebenaran yang mendatangkan keragu-raguan. Untuk mencapai kebenaran yang benar-benar diyakini, harus melalui pengalaman dan merasakan. Pedekatan ini, lebih mendekati pola berpikir yang empiris dan intuitif.
Demikian, beberapa pendekatan filosofis yang mungkin digunakan dalam memecahkan poblematika pendidikan di kalangan umat Islam. Adapun pendekatan mana yang kiranya efektif dan efisien tentunya tergantung kepada sifat, bentuk dan ciri khusus yang dihadapi. Yang jelas bahwa masalah pendidikan adalah masalah manusia yang menurut ajaran Islam adalah merupakan khalifah Allah dan memiliki potensi-potensi manusiawi, maka pendekatan filsafat pendidikan Islam, haruslah pendekatan yang melibatkan seluruh aspek dan poteansi manusiawi.

SIMPULAN

Secara umum ruang lingkup pembahasan filsafat pendidikan islam ini adalah pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu, menyeluruh, dan universal mengenai konsep-konsep yang berkaitan dengan pendidikan atas dasar ajaran islam
Filsafat pendidikan Islam seharusnya berfungsi dalam tiga dimensi yakni:
1. Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanan pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam.
2. Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksaaan tersebut.
3. Melakukan evaluasi terhadap metode dari proses pendidikan tersebut.
Filsafat Islam dalam memecahkan problema pendidikan Islam (Problema pendidikan yang dihadapi umat Islam) dapat menggunakan metode-mtode antara lain:
Metode spekulatif dan kontemlatif, pendekatan normatif, analisa konsep , pendekatan historis, pendekatan ilmiah, dan dalam sistem filsafat Islam pernah pula berkembang pendekatan yang sifatnya komprehensip dan terpadu, antara sumber-sumber akli, naqli dan imani.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya : Dep. Agama, Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur’an, 1985.
Arifin, H.M., Filsafat Pendidikan Islam, PT. Bumi Aksara, Jakarta 2000.
http://hadirukiyah.blogspot.com
Mohammad, Omar al-toumy al-syaibany, Falsafah Pandidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1979.
Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, bumi Aksara, Jakarta 2004.

Tidak ada komentar: