Telusuri

Idul Fitri : Momentum Ukhuwah dan Saling Memaafkan



Oleh : Subliyanto 

'Idul Fitri identik dengan simbol ketupat. Secara makna filosofis, ketupat merupakan simbol ukhuwah, dimana dua lembar janur atau lebih dianyam dengan rapi dan indah hingga akhirnya tampak indah dan penuh dengan makna dan kaya akan manfaat. Maka memaknai ketupat tentu tidak lepas dari simbol yang dimilikinya. Yaitu momen ukhuwah dalam menjalin solidaritas dan soliditas antar sesama.

Esensi dari 'Idul Fitri adalah bahwasanya manusia kembali ke fitrahnya yaitu sebagai manusia yang suci, manusia yang bebas dari segala noda jika dirinya benar-benar melaksanan ibadah puasa dengan sempurna, berdasarkan iman, dan hanya mengharap keridhaan-Nya.

Dan pada momen 'Idul Fitri merupakan kesempatan untuk mempekokoh jalinan ukhuwah diantara kita. Ukhuwah merupakan bagian dari ajaran agama yang harus dan terus diamalkan dan dikampanyekan, sebagai wujud implementatif dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Karena dengan mempererat ukhuwah akan terwujud nuansa kehidupan yang indah. 

MOMENTUM UKHUWAH 

Islam selalu menganjurkan agar setiap muslim berusaha untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah. Maka penting kiranya bagi kita untuk membaca, mengaji, dan mengkaji perintah tersebut yang tersurat dalam firman-Nya. Allah berfirman : 

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu.” (QS. al-Hujurat: 10). 

Selaras dengan hal itu juga sebagaimana telah Allah instrukasikan dalam firman-Nya :

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Al-Imrân :103)

Dari ayat di atas, dapat kita renungkan, betapa pentingnya jalinan ukhuwah antar sesama dalam kehidupan kita. Dan pada momen yang Fitri ini merupakan bagian dari peluang momental dalam mengamalkannya. Tentu tidak hanya terbatas pada momen ini, bisa dilanjutkan dan dirawat serta dijaga pada momen-momen selanjutnya.

Kekuatan ukhuwah diibaratkan oleh Rasulullah SAW. dengan sebuah bangunan, sebagaimana dalam sabdanya : "Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. (Muttafaq 'Alaihi).

Dan diantara sikap ukhuwah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. adalah sebagaimana pesan yang beliau sampaikan dalam haditsnya :

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini (Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali). Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain, haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (HR. Muslim).

Maka terus menjalin ukhuwah, menjaga solidaritas dan soliditas di dalamnya merupakan tugas setiap manusia dalam menjalani roda hidup dan kehidupannya.

Kemudian Rasulullah SAW. juga bersabda tentang pentingnya persaudaraan : “Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.” (HR. Muslim).

SALING MEMAAFKAN

Dan termasuk bagian dari akhlak yang baik adalah meminta maaf dan saling memaafkan. Karena dengan hal tersebut nuansa persaudaraan akan kembali terkuatkan. Kita kaji misalnya pesan Allah yang termaktub dalam al-Qur'an surat al-Imran : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Imran :133)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia agar bersegera dalam memohon ampunan atau meminta maaf jika melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Baik yang bersifat "Rabbani" atau berhubungan langsung dengan Allah, maupun bersifat "Manusiawi" atau yang berhubungan dengan manusia. Karena yang demikian akan segera menghapus dosa kekhilafan yang telah ia lakukan. 

Demikian juga dengan memaafkan. Allah memerintahkan agar kita menjadi sosok pemaaf. Hal itu sebagaimana Allah firmankan : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf :199)

KISAH HIKMAH

Ada contoh menarik seputar kehebatan saling memaafkan yang tercatat dalam sejarah yang diabadikan dalam kitab "Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lith Thifl", yang dalam edisi bahasa Indonesia berjudul "Prophetic Parenting ; Cara Nabi Mendidik Anak". Dimana dalam kitab itu disajikan kisah yang dikutip dari kitab "Tarbiyatul Aulad Fil Islam" karya as-Syaikh Abdullah Nashih 'Ulwan. Dikisahkan bahwa seorang budak milik Zainal Abidin mengucurkan air dari sebuah kendi yang terbuat dari tembikar untuk berwudhu'. Kemudian kendi itu jatuh menimpa kaki Zainal Abidin sampai pecah, dan kaki Zainal Abidin berdarah. Maka terjadilah dialog antara budak dengan Zainal Abidin dengan dialog al-Qur'an Surat al-Imran ayat 134.

Sang budak berkata : "Ya tuanku, Allah SWT. berfirman : "Dan orang-orang yang menahan amarahnya".(QS. al-Imran : 134)"

Lalu Zainal Abidin menjawab : "Aku telah menahan amarahku". Kemudian budak itu berkata lagi : "Dan memaafkan (kesalahan) orang". (QS. al-Imran : 134)"

Zainal Abidin pun menjawab : "Aku telah memaafkanmu". Budak pun melanjutkan : "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". (QS. al-Imran : 134)"

Maka Zainal Abidin menjawabnya : "Sekarang Aku merdekakan engkau karena Allah". 

Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa betapa indahnya saling memaafkan. Karena dari saling memaafkan akan melahirkan kasih dan sayang. Semoga catatan singkat ini dapat menjadikan kita lebih memperkuat ukhuwah islamiyah. Sehingga nuansa keindahan dalam persaudaraan akan tampak dan menjadi cermin hakikat keindahan Islam. 

Semoga pada momen yang Fitri ini kita dapat mempekokoh jalinan ukhuwah diantara kita. Dengan harapan semoga nuansa kedamaian dalam kehidupan kita tercipta.

"Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal 'aidin wal fa izin. Kullu 'amin wa antum bikhair".

Posting Komentar

0 Komentar