Senin, 23 Mei 2011

Antara “Cinta” Dan Ilmu


"Penuntut ilmu jika jatuh cinta pada lawan jenis maka ilmu itu tidak akan bisa melekat pada akal, pikiran, dan hatinya. Sebab akal, pikiran dan hatinya dikotori oleh bayangan semu kekasih hatinya”

“Cinta” memiliki makna yang indah dan agung. Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan keindahan dan keagungannya. Hakikat cinta tak dapat ditemukan selain dengan segenap kesungguhan pengamatan dan penjiwaan. Cinta adalah urusan hati, dan hati adalah urusan Ilahi. Cinta adalah penghubung jiwa-jiwa manusia yang beraneka corak dan warna. Dengan Cinta perdamaian akan tercipta dengan Cinta pula permusuhan merajalela.

Bagi seorang penuntut ilmu katakanlah mulai dari siswa sampai mahasiswa, “Cinta” terkadang menjadi penghambat untuk diperolehnya ilmu, karena apabila “Cinta” sudah melekat dalam diri siswa atau mahasiswa maka ia akan menghantui akal, pikiran, dan hatinya.

“Pandangan matanya dan senyuman bibir manisnya…
bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya…
dan menusuk lubuk hatiku yang lagi merana… “

Itulah sebait syair yang terucap dari seseorang yang lagi jatuh cinta. Pikirannya akan selalu teringat pada orang yang ia cintai sehingga ia lalai bahkan lupa pada visi utamanya sebagai siswa atau mahasiswa yaitu belajar, belajar, dan belajar. Yang ia pikirkan hanyalah bunga-bunga cinta, hal-hal yang tidak sedikit mengarah pada sesuatu yang dilarang oleh syari’at, yang mana semua itu hanyalah mengikuti suara nafsu belaka. Sehingga tidak salah jika seorang pujangga berkata :


“Jika aku sedang sibuk dengan gadisku…
Yang parasnya laksana cahaya pagi…
Maka aku enggan memikirkan yang lain…”

Apalagi kondisi sekarang yang semua elemen didukung oleh kemajuan sains dan teknologi yang mana melalui media itu semua urusan menjadi mudah. Disisi lain kita akui bahwa keberadaan dan kemajuan sains dan teknologi sangat membantu aktifitas kita sehari-hari, namun juga tidak dapat dipungkiri bahwa dengan kemajuan sains dan teknologi akan melalaikan kita dari pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya kita perioritaskan dalam kehidupan kita. Terlebih bagi penuntut ilmu yang statusnya masih sebagai siswa maupun mahasiswa.

Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu, sehingga ilmu yang diperoleh akan benar-benar bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain di sekelilingnya. Dalam kitab Ta’limul Muta’Allim dikatakan bahwa :

“Manusia tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaat dari ilmu itu kecuali dengan menghormati ilmu itu sendiri, menghormati Ustadz / guru, dan menghormati sumber ilmu / buku”.

“ Al ‘Ilmu Nurun, Wa Nurullahi La Yanzalu Ilal Ma’ashi “

Dari beberapa pesan ini paling tidak menjadi koreksi bagi diri kita sebagai penuntut ilmu, sudahkah kita menghormati ilmu yang kita miliki…? Sudahkah kita menghormati guru-guru kita…? Dan sudahkah kita menghormati buku-buku kita….? Serta sudahkah kita mensucikan diri kita dari kemaksiatan…?

Sebagai kesimpulan marilah kita sebagai penuntut ilmu hendaknya memurnikan kembali niat kita agar ilmu yang kita peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat kelak. Ingatlah bahwa Ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan turun pada orang-orang yang bermaksiat. Hapuslah SMS mesramu…! Kurangilah volume nelponmu…! Tinggalkanlah kencanmu…! Jangan kawatir akan kehilangan pasanganmu karena suatu saat ia akan bersamamu…! Wallahu A’lam…..!

3 Comments:

Anonymous Anonim said...

sebenarnya, cinta itu mulia. Anugrah ilahi yang patut bahkan dijaga.
menurutku, tidaklah mengapa seorang penuntu ilmu jatuh hati pada wanita (justru itu normal, bgamana jika sma sesama jenis?). Yang perrlu diperhatikan adalah bagaimana ia menjaga cintanya dalam bingkai syariat. tidak mengumbar nafsu semaunya, yang ujung-ujungnya nafsu bicara.
Karena dengan cinta itulah ia semangat menuntut ilmu (tidak harus bertemu/bicara/telephon setiap hai), menggapai mimpi bahwa da seseorang yang menunggunya disana. Bukan menodai cintanya dengan berlebhan dalam berhubungan hingga mengorbankan kehormatan, meski hanya pegang-pegangan.

Shahabat Ali radhiyallahu'anhu dulu pernah jatuh cinta pada Fathimah radhiyallahu'ana, begitupun sebaliknya. Tetapi mereka mampu menjga cintanya tanpa melanggar ketentuan agama.

(kalo boleh kasih masukkan, tulisan awal dan akhir kok gak begitu yambung ya???)

30 Mei 2011 02.02 
Anonymous Anonim said...

ehh... bli itu komen saya lho
http://maribelajarbareng.blogspot.com/

30 Mei 2011 02.11 
Blogger Subliyanto said...

oke makasih akhi dah berkunjung....!

3 Juni 2011 18.49 

Poskan Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home