Rabu, 19 Januari 2011

Teknik Analisa Tes Hasil Belajar

A. PENDAHULUAN
Salah satu tugas penting yang acapkali dan bahkan pada umumnya dilupakan oleh staf pengajar, adalah tugas untuk melakukan evaluasi terhadap alat pengukur yang telah digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar dari pra peserta didiknya. Alat pengukur yang dimaksud adalah tes hasil belajar, yang sebagaimana telah kita maklumi batang tubuhnya terdiri dari kumpulan butir-butir soal ( item ). Penganalisisan terhadap butir-butir item tes hasil belajar dapat dilakukan dari tiga segi, yaitu derajat kesukaran itemnya, daya pembeda itemnya, dan fungsi distraktornya.

B. TEKNIK ANALISIS DERAJAT KESUKARAN ITEM
Bermutu atau tidaknya item tes hasil belajar dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimliki oleh masing-masing butir item tersebut. Butir-butir item tes hasil belajar dapat dikatakan sebagai butir-butir item yang baik, apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidakpula terlalu mudah, dengan kata lain derajat kesukaran item itu sedang atau cukup.

Bertitik tolak dari pernyataan tersebut diatas, maka butir-butir item tes hasil belajar dimana seluruh testee tidak bisa menjawab dengan betul karena terlalu sukar, sehingga item tes hasil belajar tersebut tidak dapat dikatakn sebagai item tes hasil belajar yang baik. Demikian pula sebaliknya, apabila semua testee dapat menjawab seluruh item tes hasil belajar, maka juga tidak dapat dimasukkan pada katagori item tes yang baik karena terlalu mudah.

Pertanyaan yang akan segera muncul adalah bagaimana cara yang dapat ditempuh untuk mengetahui butir-butir item tes hasil belajartertentu yang dapat dikatakan sudah memiliki derajat kesukaran yang memadai…? Dalam hal ini, Witherington dalam bukunya yang berjudul pyisichogical education mengatakan bahwa, sudah atau belum memadainya item tes hasil belajar, dapat diketahui dari besar kecilnya angka yang melambangkan tingkat kesulitan dari item tes tersebut. Angka yang dapat memberikan petunjuk mengenai tingkat kesukaran item itu dikenal dengan istilah difficulity index ( angka indek kesukaran item ), yang dalam dunia hasil belajar pada umumnya dilambangkan dengan huruf P, yaitu singkatan dari kata proportion (proporsi-proporsa ).
Menurut Witherington angka indek kesukaran item tersebut besarnya berkisar antara 0,00 sampai dengan 1,00. Artinya angka indek kesukaran itu paling rendah adalah 0,00 dan paling tinggi adalah 1,00. angka indek kesukaran 0,00 merupakan petunjuk bagi tester bahwa butir item tersebut termasuk butir item tes yang terlalu sukar, sebab disini testee tidak dapat menjawab seluruh item tes dengan betul ( yang dapat menjawab dengan betul = 0 ). Sebaliknya apabila indek kesukaran itu 1,00 hal ini mengandung makna bahwa butir item tes hasil belajar tersebut termasuk katagori item terlalu mudah, sebab disini seluruh testee dapat menjawab dengan betul seluruh item tes yang bersangkutan ( yang dapat menjawab buir item dengan betul =100%, sehingga 100 : 100 = 1,00 ).


C. TEKNIK ANALISIS DAYA PEMBEDA ITEM
Daya pembeda item adalah kemampuan suatu item tes hasil belajar untuk dapat membedakan antara testee tang berkemampuan tinggi dengan testee yang berkemampuan rendah. Sehinggga sebagian besar testee yang mempunyai kemampuan tinggi untuk menjawab butir item tes tersebut lebih banyak yang menjawab betul, sementara testee yang mempuyai kemampuan rendah untuk menjawab butir item tes tersebut sebagian besar tidak dapat menjawab butir item tersebut dengan benar.

Mengetahui daya pembeda itu sangat penting sekali, sebab salah satu dasr yang dipegang untuk menyusun butir-butir item tes hasil belajar adalah adanya anggapan bahwa kemampuan antara testee yang satu dengan testee yang lain itu berbeda, dan bahwa butir-butir item tes hasil belajar itu harus mampu memberikan hasil tes yang mencerminkan adanya perbedaan-perbedaan kemampuan yang terdapat dikalangan testee.

Sejalan dengan pernyataan diatas, maka kegiatan analisis terhadap daya pembeda item itu ditunjukkan untu menjawab pertanyaan apakah testee yang kita anggap pandai jawabannya pada umumnya betul, dan apakah testee yang kita anggap bodoh jawabannya pada umumnya salah…?

Jika jawabanya Ya, maka butir item yamg bersangkutan dapat kita anggap sebagai butir item yang baik, dalam arti bahwa item tersebut telah menunjukan kemampuannya didala membedakan antara tstee yang masuk dalam katagori pandai dengan tstee yang masuk dalam katagori bodoh. Namun sebaliknya, jika jawabannya adalah Tidak, maka butir item yang bersangkutan dapat kita nyatakan sebagai butir item jelek, sebab hasil yang dicapai dalam tes itu justru bertentanga atau berlawanan arah dengan tujuan tes itu sendiri.

Daya pembeda item itu dapat diketahui melalui atau dengan melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi item. Angka indek diskriminasi item adalah angka atau bilangan yang menunjukan besar kecilnya daya pembeda yang dimiliki oleh sebutir item. Angka indek diskriminasi ini dapat dihitung dengan pembangian testee kedalam dua kelompok, yaitu kelompok testee yang tergolong pandai dan kelompok testee yang tergolong bodoh. Adapun cara penentuannya bevariasi mulai 50% : 50%, 20% : 20%, dan 27% : 27%.

Indek diskriminasi itu pada umumnya diberi lambing D ( singkatan dari discrimination power ). Besarnya indek diskriminsi item ini sama halnya dengan indek kesukaran item, yaitu berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Jika butir item diskriminasinya = 0,00 maka mhal ini menunjukkan bahwa butir item tersebut tidak memiliki daya pembeda sama sekali. Apabila indek diskriminasi dari sebutir item bertanda negatif (-), maka ini menunjukkan bahwa butir item yang bersangkutan lebih banyak dijawab oleh testee kelompok yang bodoh. Dan bila indek diskriminasi dari item tersebut bertanda positif (+), maka hal ini menunjukkan bahwa butir item yang bersangkutan lebih banyak dijawab oleh testee kelompok yang pandai.

0 Comments:

Poskan Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home