Kassava Islamic t-shirt

Segera hubungi kami di 085795965806

Majalah Suara Hidayatullah

Wilayah Yogyakarta Hubungi 08973825909

Rumah Konveksi Bandung

Segera hubungi kami di 085795965806

Space Iklan

Hubungi 08973825909

Space Iklan

Hubungi 08973825909

Sabtu, 29 Mei 2010

Konsep Ilmu dalam Islam

Islam sangat menghargisekali ilmu. Allah berfirman dalam banyak ayat al­ Qur’an supaya kaum Muslimin memiliki ilmu pengetahuan. Al­Qur’an, al­Hadits dan para sahabat menyatakan supaya mendalami ilmu pengetahuan.

Allah berfirman yang artinya : “Katakanlah “Apakah sama, orang­orang yang mengetahi dengan orang yang tidak mengetahui?” Hanya orang­orang yang berakal sajalah yang bisa mengambil pelajaran.” Allah juga berfirman yang artinya : « Allah mengangkatorang­orang yang beriman daripada kamu dan orang­orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat. »

Selain al­Qur’an, Rasulullah saw juga memerintahkan kaum Muslimin untuk menuntut ilmu. Rasulullah saw juga menyatkan orang yang mempelajari ilmu, maka kedudukannya sama seperti seorang yang sedangberjihad di medan perjuangan.

Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini, yang dia tidak mendatanginya kecuali untuk kebaikan yang akan dipelajarinya atau diajarkannya, maka kedudukannya sama dengan mujahid di jalan Allah. Dan siapa yang datang untuk maksud selain itu, maka kedudukannya sama dengan seseorang yang melihat barang perhiasan orang lain.”(HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah). Isnadnya hasan, dan disahihkan oleh Ibnu Hibban.

Rasulullah saw juga bersabda:
“Barangsiapa yang pergi menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali.” (HR. Timidzi).

Rasulullah saw juga bersabda:
”Barangsiapa melalui satu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memasukkannya ke salah satu jalan di antara jalan­jaan surga, dan sesungguhnya malaikat benar­benar merendahkan sayap­sayapnya karena ridha terhadappenuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang alim benar­benar akan dimintakan ampun olehmakhluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikan­ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti keutamaan bulan purnama atasseluruh bintang­bintang yang ada. Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan Dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, maka hendaklah dia mengambil bagian yang banyak.” (Hr. Abu Daud).


Selain al­Qur’an dan al­Hadist, para sahabat juga menyatakan bahwa sangat penting bagi kaum Muslimin memiliki ilmu pengetahuan. Ali bin Abi Talib ra., misalnya berkata : “Ilmu lebih baik daripada harta, oleh karena harta itu kamu yang menjaganya, sedangkan ilmu itu adalah yang menjagamu. Harta akan lenyap jika dibelanjakan, sementara ilmu akan berkembang jika diinfakkan (diajarkan). Ilmu adalah penguasa, sedang harta adalah yang dikuasai. Telah mati para penyimpan harta padahal mereka masih hidup, sementara ulama tetap hidup sepanjang masa. Jasa­jasa mereka hilang tapi pengaruh mereka tetap ada/membekas di dalam hati.”

Mu’az bin Jabal ra. mengatakan:
“Tuntutlah ilmu, sebab menuntutnya untuk mencari keridhaan Allah adalah
ibadah, mengetahuinya adalah khasyah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya
kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah dan mendiskusikannya adalah tasbih. Dengan ilmu, Allah diketahui dan disembah, dan dengan ilmu pula Alah diagungkan dan ditauhidkan. Allah mengangkat (kedudukan) suatu kaum dengan ilmu, dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan Imam bagi manusia, manusia mendapat petunjuk melalui perantaraan mereka dan akan merujukkepada pendapat mereka.”

Abu al­Aswad al­Duali, murid Ali bin Abi Talib mengatakan:
“Para raja adalah penguasa­penguasa (yang memerintah) manusia, sedangkan
para ulama adalah penguasa­penguasa (yang memerintah) para raja.”

Selain pentingnya ilmu, para ulama kita juga memadukan ilmu dengan amal, fikir
dan zikir, akal dan hati. Kondisi tersebut tampak jelas dalam contoh kehidupan para ulama kita, seperti Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Bukhari. Al­Hakam bin Hisyam al­Tsaqafi mengatakan: “Orang menceritakan kepadaku di negeri Syam, suatu cerita tentang Abu Hanifah, bahwa beliau adalah seorang manusia pemegang amanah yang terbesar. Sultan mau mengangkatnya menjadi pemegang kunci gudang kekayaan Negara atau memukulnya kalau menolak. Maka Abu Hanifah memilih siksaan daripada siksaan Allah Ta’ala.”

Al­Rabi mengatakan: “Imam Syafi‘i menghkatamkan al­Qur’an misalnya,
dalam bulan Ramadhan, enam puluh kali. Semuanya itu dalam shalat.

Imam Bukhari menyatakan: “Aku tidak menulis hadist dalam kitab Sahih kecuali aku telah mandi sebelum itu dan telah shalat dua rakaat”

Bukan saja dalam ilmu­ilmu agama, ulama kita yang berwibawa telah
mewariskan kita berbagai karya yang sehingga kini masih selalu kita rasakan manfaatnyaDalam bidang ilmu pengetahuan umum pun, para pemikir Muslim terdahulu sangat berperan. Al­Khawarizmi, Bapak matematika, misalnya, dengan gagasan aljabarnya telah sangat mempengaruhi perkembangan ilmu matematika. Tanpa pemikiran al­Khawarizmi, tanpa sumbangan angka­angka Arab, maka sistem penulisan dalam matematika merupakan sebuah kesulitan. Sebelum memakai angka­angka Arab, dunia Barat bersandar kepada sistem angka Romawi. Bilangan 3838, misalnya, jika ditulis dengan sistem desimal atau angka Arab, hanya membutuhkan empat angka. Namun, jika ditulis dengan angka Romawi, maka dibutuhkan tiga belas angka, yaitu MMMDCCCXLVIII. Demikian juga ketika dalam bentuk perkalian. 34 kali 35 akan lebih mudah mengalikannya jika dibanding dengan XXXIV dan XXXV.

Terbayang oleh kita betapa rumit, dan bertele­telenya sistem penulisan angka Romawi. Dengan penggunaan angka­angka Romawi, maka akan banyak memakan waktudan tenaga untuk mengoperasikan sistem hitungan. Seandainya dunia Barat masih berkutat dengan menggunakan angka Romawi, tentunya mereka masih mundur. Sebabnya, angka Romawi tidak memiliki kesederhanaan. Namun, disebabkan sumbanganangka­angka Arab, disebabkan sumbangan pemikiran al­Khawarizmi, maka pengerjaan hitungan yang rumit pun menjadi lebih sederhana dan mudah. Menarik untuk dicermati, al­Khawarizmi menulis karyanya dalam bidang matematika karena didorong oleh motivasi agama untuk menyelesaikan persoalan hukum warisan dan hukum jual­beli.

Selain itu, masih banyak lagi pemikir Muslim yang sangat berperan dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan. Salah seorang diantaranya adalah Ibn Sina. Ketika baru berusia 21 tahun, beliau telah menulis al­Hasil wa al­Mahsul yang terdiri dari 20 jilid. Selain itu, beliau juga telah menulis al­Shifa (Penyembuhan), 18 jilid; al­Qanun fi al­Tibb (Kaidah­Kaidah dalam Kedokteran), 14 jilid; Al­Insaf (Pertimbangan), 20 jilid; al­Najat (Penyelamatan), 3 jilid; dan Lisan al­’Arab (Bahasa Arab), 10 jilid. Karyanya al­Qanun fi al­Tibb telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di
Toledo Spanyol pada abad ke­12. Buku al­Qanun fi al­Tibb dijadikan buku teks rujukan
utama di universitas­universitas Eropa sampai abad ke­17.

Disebabkan kehebatan Ibn Sina dalam bidang kedokteran, maka para sarjana Kristen mengakui dan agum dengan Ibn Sina. Seorang pendeta Kristen, G.C. Anawati, menyatakan: “Sebelum meninggal, ia (Ibnu Sina) telah mengarang sejumlah kurang lebih 276 karya. Ini meliputi berbagai subjek ilmu pengetahuan seperti filsafat, kedokteran, geometri, astronomi, musik, syair, teologi, politik, matematika, fisika, kimia, sastra, kosmologi dan sebagainya.”

Disebabkan kehebatan kaum Muslimin dalam bidang ilmu pengetahuan, maka
sebenarnya pada zaman kegemilangan kaum Muslimin, orang­orang Barat meniru
kemajuan yang telah diraih oleh orang­orang Islam. Jadi, kegemilangan Barat saat ini tidak terlepas daripada sumbangan pemikiran kaum Muslimin pada saat itu. Hal ini telah diakui oleh para sarjana Barat.

Selain itu, para ulama kita dahulu menguasai beragam ilmu. Fakhruddin al­Razi
(1149­1210), misalnya, menguasai al­Qur’an, al­Hadith, tafsir, fiqh, usul fiqh, sastra arab,perbandingan agama, logika, matematika, fisika, dan kedokteran. Bukan hanya al­Qur’andan al­Hadits yang dihafal, bahkan beberapa buku yang sangat penting dalam bidang usulfikih seperti al­Shamil fi Usul al­Din, karya Imam al­Haramain al­Juwayni, al­Mu‘tamad karya Abu al­Husain al­Basri dan al­Mustasfa karya al­Ghazali, telah dihafal oleh Fakhruddin al­Razi.

Sumber : Adnin Armas, M.A.

Keteladanan Imam Hanafy dalam Soal Jabatan

Di tengah carut-marutnya dunia hukum dan kepemimpinan di negeri kita, ada baiknya kita menengok kembali kisah kehidupan Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafy, seorang ulama besar, yang sangat terkenal ketinggian ilmu dan akhlaknya. Imam Abu Hanifah lahir di Kufah pada 80 Hijriah (699 M) dan wafat pada tahun 150 Hijriah (767 M), tepat saat Imam al-Syafii lahir. Sering dikatakan, Imam yang satu pergi, datang Imam yang lain. Nama asli beliau sejak kecil adalah Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Mah.

Sejak kecil, Imam Abu Hanifah hidup di tengah keluarga pedagang. Setelah dikenal sebagai seorang yang alim sekali pun, dia juga menjalankan perniagaan. Kehidupan Imam Hanafy pada masa hidupnya mengetahui peristiwa pergantian Kepala Negara dari tangan banu Umayyah ke tangan banu Abbasiyah. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan Abdul-Malik bin Marwan; kemudian ketika tahun 127 Hijriah, Kepala Negara jatuh di tangan Marwan bin Muhammad Al-Ja’dy (dari Banu Umayyah yang ke 14). Dan inilah akhir pemerintahan Banu Umayyah.

Ketika itu, Gubernur di Iraq selaku wakil Kepala Negara dijabat oleh Yazid bin Amr bin Hurairah Al Fazzary. Selaku Gubernur, ia berhak mengangkat seseorang yang di pilihya untuk menjabat suatu jabatan tinggi di bawah kekuasaannya. Pada suatu saat Imam Hanafy telah dipilih dan ditunjuk menjadi Kepala Urusan Perbendaharaan Negara (Baiitul-Mal). Tetapi pengangkatan itu ditolak oleh Abu Hanifah. Sampai berulang-kali Gubernur Yazid menawarkan pangkat yang tinggi itu kepada beliau, namun tetap ditolak.

Pada lain saat, Gubernur Yazid menawarkan lagi pangkat Qadli (penghulu negara) kepada Imam Hanafy. Tetapi beliau bersikap menolak tawaran itu. Melihat sikap Imam Hanafy, Gubernur mulai tidak senang. Mulailah muncul kecurigaan terhadap Sang Imam. Gerak-geriknya mulai diamati. Kemudian pada suatu hari, Sang Imam mulai diancam hukum cambuk dan penjara oleh penguasa. Tetapi sewaktu mendengar ancaman tersebut,

Sang Imam hanya menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekali pun–andai kata-aku sampai di bunuh olehnya.”


Suatu hari, Gubernur Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq dan dikumpulkan di muka istananya. Di antara yang datang, ada Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubramah, Dawud bin Abi Hind dan lain-lainnya. Mereka masing-masing lalu di beri pangkat (kedudukan) resmi oleh Gubernur. Tapi, Imam Hanafy tidak datang. Padahal, Sang Imam diberi jabatan tinggi, sebagai kepala “Tata Usaha” Gubernuran yang bertugas menandatangani semua surat-surat resmi yang keluar dan yang bertanggung jawab atas uang perbendaharaan negara yang di keluarkan dari Gubernuran. Semua surat resmi tidak akan dapat dilangsungkan keluar jika belum distempel (cap) dari tanda tangan beliau, dan uang dari perbendaharaan Negara (Baitul-Mal) tidak akan mungkin dikeluarkan sepeser pun, jika belum di tanda tangani (distempel) oleh beliau. Tetapi jabatan yang sepenting dan setinggi itu, tidak diterima oleh Imam Abu Hanifah.

Gubernur Yazid bersumpah: “Jika Abu Hanifah tidak sudi menerima angkatan ini, niscaya akan dipukul dia.” Para ulama yang mendengar sumpah Gubernur itu, lalu datang berduyun-duyun kepada Imam Hanafy untuk menyampaikan harapan mereka, supaya beliau bersedia menerima jabatan yang diberikan itu. Tapi, Sang Imam tetap kokoh dengan pendiriannya. Beliau tetap bersikeras menolak pengangkatan dari Gubernur itu. Akhirnya, sang Imam ditangkap dan dipenjara oleh polisi negara selama dua Jumat (dua minggu) dengan tidak dipukul. Kemudian – sesudah dua Jumat –baru dipukul/ di dera empat belas kali. Sesudah itu baru dibebaskan. Dalam riwayat lain dikatakan, suatu saat Imam Hanafy diangkat lagi oleh Gubernur Yazid bin Hurairah menjadi Qadli (Hakim) negeri di kota Kufah. Ttetapi dengan bersikeras ia tetap menolak. Karena itulah, ia ditangkap lagi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Di dalam penjara -- karena ia tetap menolak pengangkatan itu – maka ia dijatuhi hukuman 110 kali cambuk. Hukuman itu dicicil, tiap hari 10 kali cambukan. Akhirnya, sang Imam dilepaskan kembali dari penjara sesudah merasakan 110 kali cambuk. Seketika keluar dari penjara, tampak kelihatan mukanya bengkak-bengkak, akibat bekas cambukan. Mengalami semua hukuman itu, Imam Hanafy hanya berucap: “Hukuman dunia dengan cemeti itu lebih baik dan lebih ringan bagiku daripada cemeti di akhirat nanti.”

Ujian kedua kepada Sang Imam datang pada tahun 136 Hijriah, dimasa Kepala Negara dijabat oleh Abu Ja’far Al-Manshur, saudara muda dari Abul Abbas As-Saffah, pendiri Bani Abbasiyah. Ketika itu Imam Hanafy berumur sekitar 56 tahun. Beliau dikenal sebagai orang besar yang gagah berani, ahli fikir yang hebat dalam memecahkan soal-soal yang bertalian dengan hukum-hukum agama.

Menurut riwayat, pada suatu hari Imam Hanafy mendapat panggilan dari baginda Al-Manshur di Baghdad. Sesampai di sana, ternyata sang Imam diangkat menjadi Hakim (Qadli) Kerajaan di Baghdad. Tawaran jabatan yang setinggi itu oleh beliau ditolak. Maka, Al-Manshur bersumpah dengan keras, bahwa ia harus menerima jabatan itu. Imam Hanafy pun juga bersumpah, tidak akan sanggup memegang jabatan itu. Sumpah itu terjadi berulang kali, sehingga seorang pegawai kerajaan mendekati Sang Imam dan berujar: “Apakah guru tetap menolak kehendak baginda, padahal baginda telah bersumpah akan memberikan kedudukan kepada guru?.”

Imam Hanafy dengan tegas menyatakan : “Amirul mu’minin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar kifarat sumpah saya.”

Oleh karena Imam Hanafy tetap menolak jabatan dari Kepala Negara, maka ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad, sampai masa yang telah ditentukan oleh Kepala Negara. Perlu dijelaskan, bahwa pada masa itu ulama yang terkemuka di Kufah, ada tiga orang dan antara mereka itu ialah Imam Ibnu Abi Laila.

Menurut riwayat, pada suatu hari Imam Hanafy dikeluarkan dari penjara, karena mendapat panggilan dari baginda Al-Manshur. Baginda menyerahkan jabatan Qadli (Hakim) negara kepada Abu Hanifah. Tetapi, lagi-lagi ia tetap menolaknya. Baginda lalu kepada: “Adakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?.”

Sang Imam menjawab: “Semoga Allah memperbaiki Amirul Mu’minin! Wahai Amirul Mu’minin, takutlah engkau kepada Allah, dan janganlah engkau bersekutu dalam kepercayaan engkau dengan orang yang tidak takut kepada Allah! Demi Allah, saya bukanlah orang yang boleh dipercaya di waktu tenang, maka bagaimana saya tidak sepatutnya diberi jabatan yang sedemikian itu!.”

Baginda berkata: “Kamu berdusta, karena kamu patut memegang jabatan itu!.”

Imam menjawab: “Ya Amirul mu’minin! Sesungguhnya baginda telah menetapkan sendiri, jika saya benar, saya telah menyatakan bahwa saya tidak patut menjabat itu, dan jika saya berdusta, maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang Hakim yang pendusta? Di samping itu, saya ini adalah seorang maula yang dipandang rendah oleh bangsa Arab, dan bangsa Arab tidak akan rela diadili oleh seorang golongan maula seperti saya ini.” Karena tetap menolak, sang Imam dijebloskan kembali ke dalam penjara.

Ada riwayat yang menyebutkan, Abu Ja’far Al Manshur memanggil Imam Abu Hanifah, Imam Sufyan Ats Tsauri dan Imam Syarik An Nakha’y untuk datang menghadap di hadapan baginda.

Setelah mereka bertiga menghadap, masing-masing diberi kedudukan dan diberi surat pengangkatan.

Kepada Imam Sufyan baginda berkata : “Ini penetapan engkau untuk menduduki Qadli di kota Bashrah maka itu berangkatlah ke sana!” , dan kepada Imam Syarik baginda berkata : “ Ini penetapan engkat untuk menduduki Qadli ibu kota saya dan sekitarnya, maka itu laksanakanlah !” Adapun Imam Abu Hanifah tidak mau menerima jabatan apapun. Baginda memerintahkan kepada pengawalnya, agar mengantarkan mereka ke tempat masing-masing, dan berkata pula kepada pengawalnya : “Barangsiapa menolak jabatan yang telah saya berikan ini, maka pukullah dia seratus kali pukul dengan cemeti.”

Imam Syarik menerima jabatan itu, dan Imam Sufyan lalu melarikan diri ke Yaman, dan Imam Abu Hanifah tidak mau menerima jabatan dan tidak pula melarikan diri. Sebab itu ia tetap dimasukkan ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman seperti yang telah diperintahkan oleh baginda Al Manshur. Yakni, setiap pagi, di dalam penjara, ia dicambuk dan leher sang Imam dikalungi dengan rantai besi yang berat.

Ada riwayat yang menyebutkan, al-Manshur pun pernah menggunakan jasa Ibu Abu Hanifah yang berusia lanjut untuk membujuk anaknya, agar bersedia menerima tawaran jabatan yang diberikan Kepala Negara. Pada setiap pagi, sang Ibu datang membujuk anaknya. Tetapi segala macam bujukan dan daya upaya sang ibu tadi senantiasa ditolak dengan keterangan yang baik.

Pada suatu hari sang ibu pernah berkata kepada anaknya: “Wahai Nu’man! Anakku yang kucintai! Buanglah dan lemparlah jauh-jauh pengetahuan yang telah engkau punyai itu. Karena tidak ada lain yang kau dapati selama ini, melainkan penjara, pukulan, cambuk dan rantai besi itu.!”

Perkataan sang Ibu yang sedemikian itu, hanya dijawaboleh sang Imam dengan lemah lembut dan senyuman manis: “Oo, ibu! Jika saya menghendaki akan keridhaan Allah SWT seemata-mata dan memelihara ilmu pengetahuan yang telah saya dapati, saya tidak akan memalingkan pengetahuan yang selama ini saya pelihara kepada kebinasaan yang dimurkai oleh Allah SWT.

Demikianlah, sang Imam tetap gigih dalam pendiriannya, meskipun harus menghadapi hukuman yang sangat memilukan. Setiap pagi, ia selalu menerima hukuman seberat itu. Tapi, al-Manshur tidak puas dengan hukuman yang dibjatuhkannya. Maka, suatu ketika, Imam Hanafy dipanggil oleh baginda supaya menghadapnya. Kemudian ia ia datang menghadap. Ketika itulah sang Imam disuguhi segelas minuman beracun. Tak lama, sesudah kembali ke dalam penjara, sang Imam menghadap kepada Allah SWT. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!.”

Beliau wafat di usia 70 tahun. Wafat di penjara, dalam kehidupan yang ia pi8lih sendiri, karena menolak jabatan yang ditawarkan kepadanya.

Hasan bin Imarah, yang memimpin prosesi pemandian jenazah sang Imam, berkata: “Mudah-mudahan Allah mengasihani engkau dan mengampuni semua kesalahan engkau, wahai orang yang senantiasa merasakan lapar selama tiga puluh tahun! Demi Allah, sesungguhnya engkau seorang yang menyusahkan orang banyak di masa kemudian engkau!.”

Tentu, sikap sang Imam memamg sangat luar biasa. Ia tidak tergoda oleh kekuasaan. Bahkan rela menerima hukuman ketimbang memegang jabatan tinggi yang ditawarkan padanya. Ia tidak gila jabatan. Sang Imam bersyukur dan bangga dengan kedudukannya sebagai seorang berilmu. Beliau tidak mengharamkan jabatan itu. Tetapi, beliau enggan menerima jabatan itu untuk dirinya.

Sepanjang riwayat yang boleh dipercaya, bahwa ketika telah merasa bahwa dirinya akan sampai ke ajalnya, sang Imam bersujud kepada Allah. Seketika itu wafatlah beliau dalam bersujud dengan khusyu’nya. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman Al-Khaizaran, Baghdad.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dan teladan dari Kisah Sang Imam Abu Hanifah! Islam tidak mengharamkan jabatan dan harta. Tetapi, Imam Abu Hanifah memberikan keteladanan, bahwa dunia adalah hal ”remeh” di matanya. Akhirat adalah kehidupan dan tujuan yang hakiki. (Disarikan dari buku Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab karya K.H. Moenawar Cholil (Jakarta: Bulan Bintang, cet. kesembilan, 1994)).

Sumber : www.hidayatullah.com

Jumat, 14 Mei 2010

Ciri-ciri Suami Dambaan Para Wanita

Suami, kadang-kadang isteri menganggap bahwa suami dia tidak seperti ketika masa pacaran dulu atau merasa sang suami terlalu sibuk bekerja hingga sang isteri merindukan hal-hal romantis bersama dengan suami tercinta. Atau ada yang merasa bahwa suami tidak perhatian, egois, dan sebagainya. Dan berikut ini beberapa ciri-ciri suami dambaan para wanita, atau yang sedang mencari suami idaman.

1. Setia Mendengar
Punya telinga tapi tak mendengar, kadang-kadang untuk mendengarkan itu susah. Tetapi seorang isteri akan lebih suka jika memiliki suami yang mau mendengar cerita atau keluhan atau obrolan dari sang isteri. Bagi suami kadang-kadang untuk mendengarkan perkataan isteri sering dianggap tidak penting tetapi yang diinginkan oleh sang isteri hanyalah perkataan dia di dengar dan difahami saja.

2. Menghargai
Semua manusia tentu ingin dihargai, termasuk juga isteri. Seorang suami yang selalu menghargai isteri baik dalam sikap maupun perkataan tentu akan selalu dirindukan oleh seorang isteri. Penghargaan yang diharapkan oleh isteri bukanlah mahal atau besar, awali dengan perbuatan-perbuatan kecil/sepele seperti memberikan pujian jika sang istri memasak atau memberi ciuman selamat pagi.

3. Tidak Suka Menyalahkan
Seorang isteri juga manusia yang tak luput dari kesalahan, ketika sang isteri berbuat kesalahan, sang suami sebaiknya menegur dengan sikap yang cerdas, tidak dengan kasar atau menyalahkan hingga keluar emosi yang berlebihan. Daripada marah-marah kepada isteri sebaiknya menanyakan/meminta penjelasan dari sang isteri kenapa berbuat itu dan memberi nasihat agar tidak terulang lagi.

4. Bisa menerima pendapat isteri
Suami sebagai kepala keluarga, sebaiknya tidak bersikap otoriter tetapi sebaliknya suami dapat mendengar dan menerima pendapat dari isteri jika pendapat itu memang merupakan keputusan yang terbaik. Suami isteri perlu memutuskan suatu keputusan secara bersama-sama tidak sepihak dan sang isteri harus memahami apa-apa yang diputuskan oleh suami.

5. Sayang diri sendiri
Kalau suami menyayangi isteri dan keluarga, tentu isteri juga ingin agar sang suami juga menyayangi diri sendiri. Seperti menjaga kesehatan, pola makan, tidur yang cukup, dan tidak merokok.

6. Pulang dengan senyuman
Tekanan di tempat kerja tidak membuat sang suami membawa perasaan itu didalam rumah, kerja yang membuat stress atau meletihkan tetapi ketika sampai di rumah semuanya dihiasai dengan senyuman, sehingga isteri tidak menjadi sedih atau salah bersikap.
Jika ada masalah di tempat kerja, suami bisa berbagi cerita kepada isteri dan isteri pun bisa menjadi motivasi atau memberi sokongan kepada suami yang sedang menghadapi masalah.


7. Romantis
Isteri mana yang tidak bahagia memiliki suami yang penuh kasih sayang , perhatian dan romatis. Memang agak susah mengharapkan suami menunjukkan rasa sayang dan cinta kepada isteri setiap hari. Tetapi suami bisa melakukannya pada saat tertentu, misal hari jadi pernikahan, atau hari ulang tahun isteri. Sesekali suami mengajak isteri untuk berduaan seperti ketika waktu pacaran.

8. Membantu urusan rumah tangga dan anak
Inilah suami idaman yang dinantikan oleh para isteri, yaitu suami yang mau membantu dan melakukan kerja rumah tangga. Disela-sela kesibukan mencari nafkah, suami masih ’sempat’ meluangkan waktu untuk membantu isteri dan anak.

9. Senantiasa menambah ilmu rumah tangga
Biasanya sang isteri yang mencari informasi berkenaan dengan rumah tangga, tetapi alangkah baiknya kalau sang suami juga mencari informasi/ilmu mengenai rumah tangga.

Kegiatan Pendukung Bimbingan Konseling

Dalam melaksanakan bimbingan konseling,seorang konselor membutuhkan kegiatan pendukung yang dapat mendukung aktifitas bimbingan,kegiatan pendukung itu meliputi aplikasi instrumentasi bimbingan konseling, penyelenggaran himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, alih tangan kasus.
A. Aplikasi Instrumentasi Bimbingan Konseling
Aplikasi ini terdiri dari tiga bentuk aplikasi yaitu aplikasi instrumentasi untuk bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, serta aplikasi bimbingan karier. Aplikasi bimbingan pribadi yaitu aplikasi yang menitik beratkan pada bimbingan keagamaan, kekuatan diri, bakat, kelemahan diri, pengarahan diri, perencanaan diri, dan pengambilan keputusan. Aplikasi bimbingan sosial yaitu aplikasi yang menangani tentang kemampuan berkomonikasi, menyesuaikan diri, hubungan dengan teman, serta kedisiplinan. Aplikasi bimbingan belajar yaitu aplikasi bimbingan yang mengarahkan siswa pada tujuan belajar, kebiasaan siswa, penguasaan materi, kesehatan fisiologis, dan orientasi belajar. Sedangkan aplikasi bimbingan karier merupakan bimbingan yang mengarahkan pada pemilihan keterampilan, orientasi dan informasi pekerjaan.
B. Pnyelenggaraan Himpunan Data
Himpunan data diselenggarakan secara sistematis, komprehensif, terpadu, dan sifatnya tertutup. Data tentang siswa / klien perlu tersusun rapi seperti identitas siswa, latar belakang kelurga, latar belakang pendidikan, keadaan lingkungan tempat tinggal, hubungan social, dan lain-lain.
C. Konferensi Kasus
Konferensi kasus adalah kegiatan pendukung bimbingan konseling untuk membahas permasalahn-permasalahan yang dialami oleh peserta didik dalam satu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai pihak yang diharapkan dapat memberikian bahan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi tertuntaskannya permasalahan tersebut, bersifat terbatas dan tertutup.
D. Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah adalah kegiatan pendukung bimbingan konseling untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan dan komitmen bagi tuntasnya masalah yang dihadapi peserta didik melalui kunjungan ke rumahnya. Kegiatan ini memerlukan kerja sama yang penuh dari orang tua dan anggota keluarga lainnya.
E. Alih Tangan Kasus
Kegiatan alih tangan kasus merupakan kegiatan pendukung bimbingan konseling untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialami peserta didik dengan memindakan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lain.


Teknik Pengumpulan Data

A. INTERVIEW (WAWANCARA)
Interview (wawancara) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara sipewawancara dan responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Walaupun wawancara adalah proses pengumpulan data dengan percakapan yang berbentuk tanya jawab dengan tatap muka, wawancara merupakan proses pengumpulan data untuk suatu penelitian .
Interview merupakan proses interaksi antara pewawancara dan responden. Walaupun bagi pewawancara proses tersebuit adalah satu bagian dari langkah-langkah dalam penelitian, tetapi belum bagi responden wawancara adalah bagian dari penelitian. Andaikatapun pewawancara dan responden menganggap bahwa wawancara adalah bagian dari penelitian, tetapi sukses tidaknya pelaksanaan wawancara bergantung sekali darim proses interaksi yang terjadi. Suatu elemen yang paling penting dari proses interaksi yang terjadi adalah wawasan dan pengertian.
Dalam interaksi tersebut, masalah isyarat-isyarat yang berada di bawah persepsi ( subliminal cues ) sukar dikenali karena antara pewawancara dan responden belum saling mengenal. Karena itu pewawancara sedapat mungkin memperbaiki wawasan atau pengertian dalam interaksi.
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga peneliti ingin mengetahui hal–hal dari respondennya kecil/sedikit.
Hamidi juga menambahkan bahwa teknik wawancara dipilih jika peneliti yang menginginkan data berupa cerita rinci dan bahasa hasil konstruksi dari para responden, misalnya tentang pengetahuan, pengalaman, pendapat atau pandangan hidup.
Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self report atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan keyakinan pribadi. Sugiono mengutip pernyataan Sutrisno Hadi dalam bukunya Metodelogi Research mengatakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan metode interview dan juga kuesioner adalah sebagai berikut :
1. Bahwa subyek ( responden ) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.
3. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-peretanyaan yang diajukan oleh peneliti kepadanya sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.
Ada beberapa sasaran atau tujuan dari wawancara yang ingin diperoleh berjenis-jenis dan banyak sifatnya dan sukar dikelompokkan dalam jenis-jenis umum. Di bawah ini adalah pengelompokan isi dari keterangan yang ingin diperoleh dengan cara wawncara :
~ Sasaran isi untuk memperoleh atau memastikan fakta
~ Untuk memastikan kepercayaan tentang keadaan fakta.
~ Untuk memastikan perasaaan
~ Untuk menemukan suatu standar kegiatan
~ Untuk perilaku sekarang atau perilaku terdahulu
~ Untuk mengetahui alasan-alasan seseorang


Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur dan dapat dilakukan melalui tatap muka maupun dengan menggunakan telepon.
a. Wawancara Terstruktur
Wawancara terstruktur digunakan seebagai teknik pengumpulan data bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tenteng informasi yang apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu, dalam melakukan waancara pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan- pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini sertiap responden diberi pertanyaan yang sama dan pengumpul data mencatatnya.
b. Wawancara Tidak Terstruktur
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Ppewawancara hanya menulis garis besarnya saja.
Dalam wawancara ini peneliti belum mengetahui dengan pasti data yang akan diperoleh, sehingga peneliti banyak mendengarkan apa yang diceritrakan responden.
B. KUSIONER ( ANGKET )
Kusioner adalah teknik pengumpulan data melalui pembuatan daftar pertanyaan dengan jumlah pilihan jawaban yang telah ditetapkan oleh peneliti .
Alat lain untuk mengumpulkan data adalah daftar pertanyaan, yang sering secara umum disebut dengan kusioner. Pertanyaan-pertanyaan yang tgerdapat dalam kusioner atau daftar pertanyaan cukup terperinci dan lengkap. Keterangan yang diperoleh dengan mengisi daftar pertanyan, dapat dilihat d ari segi siapa yang mengisi daftar pertanyaan tersebut. Jika yang menuliskan isian kedalam kusioner adalah responden maka daftar pertanyaan tersebut dinamakan kusioner .
Kusioner harus mempunya center perhatian yaitu masalah yang ingin dipecahkan. Tiap pertanyaan harus merupakan bagian dari hipotesis yang ingin diuji. Dalam memperoleh keterangan yang berkisar pada masalah yang ingin dipecahkan, maka secara umum kusioner dapat berupa :
1) Pertanyaan tentang fakta
2) Pertanyaan tentang pendapat
3) Pertanyaan tentang persepsi
Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh peneliti yaitu :
1. Isi dan tujuan pertanyaan
2. Bahasa yang digunakan
3. Tipe dan bentuk pertanyaan
4. Pertanyaan tidak mendua
5. Tidak menanyakan yang sudah lupa
6. Pertanyaan tidak menggiring
7. Pertanyaan tidak terlalu panjang
8. Urutan pertanyaan
9. Prinsip pengukuran
10. Penampilan fiisik angket
C. OBSERVASI ( PENGAMATAN )
Pengumpulan data dengan observasi adalah pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Dalam kegitan sehari-hari kita menggunakan mata dalam mengamati sesuatu, seperti: mmengamati bulan purnama, gunung yang indah, lampu warna warni dan lain-lain. Tetapi yang dimaksud dengan pengamatan dalam metode ilmiah bukanlah pengamatan seperti diatas .
Pengamatan dikatakan sebagai teknik pengumpulan data jika memenuhi kriteria dibawah ini:
a. Pengamatan digunakan untuk penelitian dan telah direncanakan secara sistematik.
b. Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan penelitian
c. Pengamatan disusun secara sistematis dan dihubungkan dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagai suatu set yang menarik perhatian.
d. Pengamatan dapat dicek dan dikontrol atas validitas dan realibitasnya.
Pengumpulan data dengan pengamatan merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersussun dari berbagai proses biologis dan psikologis.
Teknik pengumpulan data dengan observasi dilakukan jika peneliti menghendaki data hasil dari melihat atau menyaksikan aktivitas yang dilakukan oleh responden dan atau mendengarkan apa yang dikahtakan mereka. Sugiono juga menambahkan bahwa teknik ini digunakan jika penelitian berkenaan dengan manusia, proses kerja, gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
Dari segi pelaksanaan pengumpulan data observasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Participant Observation ( Observasi Berperan Serta )
Dalam observasi ini, peneliti terlibat langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sember penelitian.
2. Non Participant Observastion ( Observasi non partisipasi )
Observasi non partisipasi adalah kebalikan dari observasi berperan serta yaitu, peneliti tidak terlibat langsung dengan aktifitas orang-orang yang sedang diamati, peneliti hanya sebagai pengamat independen.
D. DOKUMENTASI
Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi adalah cara pengumpulan data yang diperoleh dari catatan ( data ) yang telah tersedia atau telah dibuat oleh pihak lain. Misalnya, jumlah penduduk disuatu desa, catatan hasil rapat suatu organisasi, karena itu data dari pembacaan dokumentasi tersebut disebut data sekunder .
Teknik dokumnetasi harus sesuai dengan tujuan penelitian dan tidak boleh melenceng dari tujuan penelitian atau bisa sesutu yang mendukung kepada tujuan. .

Kamis, 13 Mei 2010

Pengadaan Dan Klasifikasi Bahan Pustaka

A. Jenis Bahan pustaka
Pemahaman jenis-jenis bahan pustaka perlu sekali bagi seorang guru pustakawan, sebab dapat dijadikan dasar untuk menentukan bahan-bahan pustaka yag harus di usahakan.
Bahan –bahan pustaka ada bermacam macam, hal ini bergantung dari mana kita meninjaunya.jenis bahan pustaka bsa ditinjau dari bentuk fisiknya dan dari isinya.
1. Ditinjau dari bentuk fisiknya, bahan-bahan pustaka bias dibagi ke dalam dua kelompok sebagai berikut:
a. Bahan-bahan pustaka berupa buku-buku, seperti buku tentang psikologi, buku Bahasa Indonesia, buku-buku tentang pengetahuan sosial, buku-buku tentang agama, buku-buku tantang ilmu pengetahua alam.
b. Bahn –bahan pustaka bukan berupa buku, seperti surat kabar, majala , peta, globe, perigatan hitam.
Bahan-bahan pustaka yang bukan berupa buku ini dapat dibagi lagi menjadi dua kelompok sebagai berikut:
1) Bahan-bahan tertulis, seperti surat kabar, majalah, brosur, laporan, karangan-karangan, klipping.
2) Bahan-bahan berupa alat pengajaran, seperti piringan hitam, radio tape recorder, filmslide projector, film strip projector.
2. Ditinjau dari isinya, bahan-bahan pustaka dapat dibagi kedalam dua kelompok sebagai berikut:
a. Bahan-bahan pustaka yang isinya fiksi, atau disebut buku-buku fiksi, seperti buku cerita anak, cerpen, novel.
b. Bahan-bahan pustaka yang isnya non fiksi, atau dibentuk buku-buku non fiksi, seperti buku referensi, kamus, biografi, ensiklopedi, majalah, dan surat kabar.
Perpustakaan sekolah harus menyediakan bermacam-macam bahn pustaka, baik yang berupa buku maupun bukan berupa buku (non book material), baik buku-buku fiksi maupun buku-buku non fiksi. Bahkan perpustakaan sekolah yang sudah maju seharusnya menyediakan banyak media belajar yang berteknologi tinggi seperti alat pemutar film, radio, video tape recorder, sebab perpustakaan sekolah tidak hanya sebagai tempat untuk membaca, tetapi juga sebagai tempat untuk mendengarkan, belajar dan mengerjakan sesuatu.

B. Perencanaaan Pengadaan Bahan Pustaka
Secara umum, perencanaan berarti suatu proses berfikir menentukan tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada masa yang akan dating dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan seblumnya. Sedangkan perencanaan pengadaan bahan-bahan pustaka adalah suatu proses berfikir menentukan usaha-usaha yang akn dilakukan pada masa yang akan datang untuk memperoleh bahan-bahan pustaka dalam rangka terselenggaranya perpustakaan sekolah dengan sebaik-baiknya.
Berdasarkan definisi di atas, perencanaan pengadaan bahan-bahan pustaka merupakan suatu proses berfikir. Ini berarti bahwa pada waktu membuat perencanaan guru pustakawan atau seluruh staf perpustakaan sekolah memikirkan sesuatu. Sesuatu yang difikirkan tersebut adalah usaha-usaha atau langkah-langkah apa yang akan ditempuh untuk memperoleh bahan-bahan pustaka.
Guru pustakawan selaku kepala perpustakaan sekolah, begitu pula seluruh staf perpustakaan sekolah harus mampu membuat perencanaan pengadaan bahan-bahan pustaka, sebab hasil perencanaan merupakan suatu keputusan.tanpa adanya keputusan sebagai hasil keputusan sebagai hasil perencanaan, maka tidak ada dasar untuk melakukan kegiatan-kegiatan begitu pula perencanaan yang kurang tepat akan membuahkan kegiatan-kegiatan yang kurang tepat pula. Pendek kata,hasil perencanaan pengadan bahan-bahan pustaka merupakan titik tolak dari usaha-usaha yang akan ditempuh untuk memperoleh bahan-bahan pustaka.


Dalam perencanaan bahan-bahan pustaka,ada beberapa langkah yang harus ditempuh oleh guru pustakawan, langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Inventarisasi bahan-bahan pustaka yang harus dimiliki.
Langkah pertama dalam perencanaan pengadaan bahan-bahan pustaka adalah menginventarisasi bahan-bahan pustaka yang harus dimiliki oleh perpustakaan sekolah. Untuk menginventarisasi bahan-bahan pustaka ini guru pustakawan bisa berpedoman kepada buku-buku yang memuat daftar bahan pustaka. Beberapa buku yang memuat bahan pustaka misalnya “KOLEKSI DASAR UNTUK PERPUSTAKAAN SD,SMP,SM,SPG”,”BERITA BIBLIOGRAFI”,”DAFTAR MAJALAH”,”DAFTAR BUKU DENGAN ANOTASI”. Oleh karena itu kiranya setiap perpustakaan sekolah memiliki daftar buku-buku untuk dijadikan pedoman dalam perencanaan pengadaan bahan-bahan pustaka. Untuk memperolaeh daftar bulu-buku tersebut guru pustakawan bisa menghubungi penerbit-penerbit baik penerbit dalam negeri maupun luar negeri. Biasanya setiap penerbit mengeluarkan atau menerbitkan katalog buku dimana dalam katalog buku tersebut dirinci buku-buku yang sedang diterbitkan oleh penerbit yang bersangkutan dalam masa tertentu,misalnya “KATALOG BUKUTAHUN 1986/1987”, “KATALOG LENGKAP 1987”, dan sebagainya. Seandainya untuk menghubungi penerbit tersebut guru pustakawan mengalami kesulitan, dimana mungkin disebabkan belum diketahuinya alamat penerbit, ataupun hambatan-hambatan lainnya maka guru pustakawan bisa menghubungi beberapa toko buku yang sering kali mendapatkan kiriman daftar buku dari penerbit-penerbit.
2. Inventarisasi bahan-bahan pustaka yang dimiliki.
. Langkah kedua dalam perencanaan pengadaan bahan-bahan pustaka adalah menginventarisasi bahan-bahan pustaka yang sudah dimiliki atau sudah tersedia di perpustakaan sekolah. Untuk menginventarisasi bahan-bahan pustaka ini guru pustakawan bisa berpedoman kepada buku induk perputakaan sekolah.
3. Analisis kebutuhan bahan-bahan pustaka
Berdasarkan inventarisasi di atas guru pustakawan sudah bisa menginventarisasi bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan. Yang dimaksud dengan bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan adalah bahan-bahan pustaka yang seharusnya dimiliki atau tersedia di perpustakaan, tetapi bahan-bahan pustaka tersebut belum dimiliki perpustakaan sekolah. Cara yang dapat di tempuh untuk menganalisis bahan-bahan pustakayang di butuhkan adalah membandingkan antara inventarisasi bahan-bahan pustaka yang harus dimiliki (lagkah satu) dengan hasil inventarisasi bahan-bahan pustaka yang sudah dimiliki (langkah dua).
4. Menetapkan prioritas
Apabila hasil analisis kebutuhan bahan-bahan pustaka menunjukkan bahwa bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan sangat banyak, sementara dana yang ada tidak cukup, maka perlu dibutuhkan prioritas dari seluruh bahan pustaka yang dibutuhkan, sehingga dapat ditetapkan bahan-bahan pustaka yang mana yang harus segerah diusahakan ada berapa hal yang perlu dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan prioritas.
a. Kurikulum sekolah
b. Bakat dan minat murid-murid
c. Pengetahuan, kecakapan, keterampilan murid-murid
d. Tingkat usia murid-murid
e. Sumber-suber pengadaan bahan pustaka
f. Keadaan ruang dan peralata perpustakaan sekolah yang tersedia
g. Anggaran yang tersedia untuk pengadaan bahan-bahan pustaka.
Sering kita menemukan dua buah buku yang judulnya sama, tetapi pengarang dan penerbitnya berbeda. Sedangkan isinya tidak jauh berbeda. Maka dalam perencanaan khususnya pada wktu menentuka priaritas, guru pustakawan harus memilih buku yang baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan baik tidaknya suatu buku adalah:
a. Isi atau ruang linjup isinya
b. System matika penyajian
c. Kemampuan pengarang
d. Penerbitnya
e. Kelengkapan di dalam buku misalnya indek, illustrasi, lampiran
f. Kulitas sampul dan kertasnya
g. Edisi atau tahun terbitnya

5. Menentukan cara pengadaan bahan-bahan pustaka
Langkah terakhir dalam perencanaan pengadaan bahan-bahan pustaka adalah menentukan cara pengadaannya. Jadi setelah menentukan buku-buku mana yang harus diusahakan, maka ditentukan cara pengadaannya, munrkin dengan cara membeli, hadiah, menyewa dan sebagainya.
C. Cara Pengadaan Bahan Pustaka
Ada beberapa cara yang dapat ditempuh olen guru pustakawan untuk memperoleh bahan-bahan pustaka antara lain:
1. Pembelian
Untuk membeli buku-buku perpustakaan sekolah dapat ditempuh dengan beberapa cara.
a. Membeli ke penerbit
Yang dimaksud di sini adalah untuk memperoleh buku-buku, guru pustakawan membeli ke penebit.
b. Membeli ke toko buku
c. Memesan
2. Hadiah
Permintaan hadiah atau sumbangan buku-buku untuk dijadikan tambahan bahan pustaka dapat dirinci sebgai berikut:
a. Hadiah atau sumbangan dari murid-murid yang akan masuk sekolah atau yang akan lulus.
b. Hadiah atau sumbangan dari guru atau aggota staf sekolah
c. Hadiah atau sumbangan dari BP3
d. Hadiah atau sumbangan dari lemaga-lembaga pemerintahan
e. Hadiah atau sumbangan dari penerbit.
3. Tukar Menukar
Untuk memperoleh tambahan buku-buku perpustakaan sekolah, guru pustakawan bisa mengadakan hubungan kerjasama dengan guru pustakwan sekolah lainnya. Hubungan kerjasama tersebut berupa saling menukar buku-buku perpustakaan sekolah.

4. Pinjaman
Pinjaman buku-buku, majalah, surat kabar, dan bahan pustaka lainnya, dapat diusahakan oleh guru pustakawan agar bahan-bahan pustaka semakin lama semakin bertambah. Pihak-pihak yang dapat dipinjam adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru-guru atau arang tua murid.
D. Inventarisasi bahan-bahan pusaka
Bahan-bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah, baik yang diperoleh dengan cara membeli, hadiah atau subangan, tukar menukar, meminjam, maupun dengan cara lainnya, harus dicatat dalam buku induk. Pencatatan bahan-bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah disebut inventarisasi bahan pustaka.
Penginventarisasian bahan-bahan pustaka ini dilakukan pada waktu bahan-bahan pustaka dating, yaitu setelah guru pustakawan mengecek keadan bahan-bahan pustaka tersebut. Pekerjakan ini harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya, sebab penginventarsasian yang baik banyak kegunaannya. Pertama, memudahkan guru pustakawan dalam merencanakan pengadaan bahan-bahan pustaka. Kedua, memudahkan guru pustakawan dalam melakukan pengawasan terhadap bahan-bahan pustaka yang ada. Ketiga, memudahkan guru pustakawan dalam membuat lporan tahunan.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rngkaian kegiatan inventarisasi bahan-bahan pustaka meliputi sebagai berikut:
1. Memberi stempel pada bubku-buku
Setiap buku yang datang harus diperiksa. Dalam pemeriksaannya hendaknya diteliti nama pengarang, judul karangan, edisi, serta bentuk fisiknya. Apabila telah selesai diperiksa dan ternyata benar, maka setiap buku tersebut di stempel dengan stempel sekolah dan inventaris perpustakaan sekolah.
a. Setiap buku distempel dengan sempel sekolah sebagi tanda pengenal. Yang perlu distempel adalah halaman-halaman tertentu, seperti halaman judul, daftar isi, bab per bab, dan sebagainya. Hal ini tergantung pada kebijaksanan guru pustakawan masing-masing. Halaman-halaman yang distempel hendaknya konsisten. Pemberian stempel jangan sampai menggangu tulisan dan usahakan pada halaman-halaman yang mudah dilihat.
b. Buku-buku yang telah distempel dengan stempel sekiolah, perlu juga distempel dangan stempel inventaris yang memuat kolom isin nomor inventaris dan tanggal menginventaris. Biasanya stempel inventaris ini distempelkan dibalik halaman judul.
2. Mendaftar buku-buku
Buku-buku yang telah distempel segera diinventarisasikan dalam buku inventaris. Dalam penginventarisasiannya diusahakan dibagi menurut cara pengadaannya.
E. Klasifikasi
a. Arti dan tujuan klasisifikasi
Klasifikasi berasal dari kata “classification” (bahasa inggris). Kata “classification” ini berasal dari kata “to classify”, yang berarti menggolongkan dan menempatkan benda-banda yang sama di suatu tempat. Menurut Richardson, klasifikasi itu adalah kegiatan mengelompokkan dan menempatkan barang-barang.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan klasifikasi buku adalah suatu proses memilih dan mengelompokkan buku-buku perpustakan sekolah atau bahan pustaka lainnya atas dasar tertentu serta diletakkannya secara besama-sama di suatu tempat.
Menuru Bloomberg dan Evans da dam bukunya yang berjudul “Introduction To Technical Service For Library Technicians”, tujuan klasifikasi adalah untuk mempermudah penggunaan koleksi, baik bagi pengunjung maupun bagi petugas perpustakaan,
Secara rinci, tujuan mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:
1) Untuk mempermudah murid-muri di dalam mencari buku-buku yang sedang diperlukan.
2) Untuk mempermudah guru pustakawan di dalam mencari buku-buku yang di pesan oleh murid-murid.
3) Untuk mempermudah guru pustakawan di dalam mengembalikan buku-buku pada tempatnya.
4) Mempermudah guru pustakawan mengetahui perimbangan bahan pustaka.
5) Akhirnya, buku-buku perputakaan sekolah di klasifikasikan dengan sebaik-baiknya untuk mempermudah guru putakawan di dalam menyusun suatu daftar bahan-bahan pustaka yang berdasarka system klasifikasi.

b. Prinsip-prinsip pengklasifikasian
Mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Agar guru pustakawan tidak terlalu mengalami kesulita di dalam mengklasifikasikan buku-buku perpustakaan sekolah, sebaiknya memahami beberapa prinsip yang perlu di perhatikan. Sekedar sebagai pedoman, ada beberapa prinsip yang perlu di perhatikan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustaaan sekolah yang menggunakan system klasifikasi berdasarkan subyeknya.
1. Klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah, pertama-tama berdasarkan subyeknya. Kemudian berdasarkan bentuk penyajiannya, atau bentuk karyanya.
2. Kususnya buku-buku yang termasuk karya umum dan kesusastraan hendaknya lebih di utamakan pada bentuknya.
3. Di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah hendaknya memperhatikan tujuan pengarangnya .
4. Klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah itu pada subyek yang sangat pesipik.
5. Apabila sebuah buku yang membahas dua atau tiga subyek, klasifikasilah buku tersebut pada subyek yang dominant.
Sebelum guru pustakawan mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah hendaknya terlebih dahulu beberapa prinsip di atas dipahami dan dihafalkan, sehingga proses klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah dapat dilakukan dengan lancer.
B sistem klasifkasi
Sehungan dengan klasfikai, pengatahuan dasar yang harus dimiliki oleh guru pustakawan adalah jenis sistem klasifkas dan kemampuan menentukan stem klasieikasi. Sistem klasiekasi bisa berdasarkan ciri-ciri buku, sehingga buku-buku yang bercirikan sama bisa dkelompokkan manjadi satu. Ada beberaa sistem klasieikas buku-buku perpustakaan sekolah, atara lain sebaga berikut:
1. sistem abjad nama pengarang
pada sstem in, buku-buku perpustakaan sekolah dkelompok-kelompokkan atas dasar abjad nama pengarangnyam buku-buku yang huruf pertama dari pengarangnya sama dikelompokkan menjad satum msalnya. Drs. Syamsul Arifin, DR.Alwi Sulo
2. sistem abjad judul buku
pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompok-kelompokkan atas dasar abjad judul bukunya.buku-buku yang huruf ertama dar judul sama dikelimpokkan menjad satu. Misalnya:
a. Administrasi erkantoran moderen, oleh te liang gie.
b. Pokok-pokok pegawaian, oleh Drs. Amr Dien IK
c. Pedoman ahli ibadah, oleh Iman Ghazali
d. Administrasi pendidikan, oleh Hadari Nawawi
3. Sistem kegunaan buku
Pada sstem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompok-kelompokkan atas dasar kegunaanya. Buku-buku ceritera dikelompokkan manjadi satu, buku-buku lmu pengatauan dikelimpokkan menjadi satu.
4 Sistem penerbit
Pada sistem ini, buku-b uku perpustakkan sekolah dikelompok-kelompokkan atas dasar penerbt buku. Di indonesa terdapat banyak penerbit, seperti Usaha Nasonal, Balai Pustaka, Balai Aksara, Gunung Agung, Yayasan Pendidikan
C. Cara Mengklasifikasi Buku.
Selain memahami arti, tujuan, dan prnsip-prnsip klasifikasi, guru pustakawan juga perlu memahami cara menklasfkasi buku-buku perpustakaan sekolah. Yamg dimaksud denga cara disini adalah langkah-langkah yang harus dtempuh oleh guru pustakawan di dalam menklasfikasikan buku-buku perpustakaan sekolah. Langkah-langkah yang dapat ditempuh oleh guru pustakawaan di dalam menklasifikasikan buku-buku perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:
1. Menentukan sistem klasifikasi
Langkah pertama yang di dalam mengklarifikasi adalah menentukan system klasifikasi.Satu hal yang perlu diperhatikan adalah konsistensi di dalam menggunakan system klasifikasi.Sistem klasifikasi yang digunakan harus konsisten.Apabila saat ini yang digunakan adalah system klasifikasi persepuluh Dewey ,maka pada masa-masa selanjutnya juga menggunakannya.
2.Menyiapkan bahan klasifikasi
Setelah menggunakan system klasifikasi ,langkah berikutnya adalah menyiapkan bahan klasifikasi.Anggaplah seorang pustakawan menggunakan system klasifikasi sepersepuluh Dewey ,maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan bagan klasifikasi Dewey.Agar pengklasifikasian lebih lancar ,maka sebaiknya bagan tersebut dituliskan pada kertas manila dan di tempel di tembok perpustakaan.
3.Menyiapkan buku
Buku-buku yang akan diklasifikasi disiapkan.Buku-buku tersebut telah dicatat atau diinventariskan di dalam buku inventaris.Buku-buku tersebut telah distempel dengan stempel sekolah sebagai tanda pengenal dan stempel inventaris.
4.Menentukan subyek buku
Untuk menentukan subyek buku dapat dilakukan dengan cara menganalisis bagian-bagian buku :
a. judul dan sub judul buku
judul dan sub judul biasanya terdapat pada kulit buku dan halaman pertama setelah kulit buku.judul buku dan dan sub judul buku ini mencerminkan isi atau persoalan yang akan dibahas dalam buku tersebut.
b.Daftar isi
Daftar isi menyangkut rincian persoalan yang dibahas dalam buku yang bersangkutan .Dengan melihatnya, maka akan etrbayang persoalan yang dibahas sehingga dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas subyeknya.
c.Kata pengantar
Pada kata pengantar atau prakata seringkali penulis menjelaskan latar belakang,tujuan penyusunan ,serta sistematika pembahasan.Oleh sebab itu denga membaca kata pengantar maka akan diperolah gambaran subyek buku tersebut.
d.Isi sebagian atau keseluruhan
Kadang-kadang walaupun pustakawan telah menelaah judul,daftar isi,dan kata pengantarnya,ia belum memperoleh gambaran yang jelas mengenai subyeknya.Apabila ini terjadi,maka dia harus membaca sebagian saja,apabila belum juga ditemukan subyeknya , maka bacalah semua halaman.

Macam-Macam Metode Penelitian Kualitatif

A. MACAM-MACAM METODE PENELITIAN KUALITATIF
Dalam penelitian kualitatif ada lima ciri utama yang dimilikinya, meskipun pada kenyataannya dalam penelitian kualitatif tidak memperlihatkan semua ciri tersebut. Adapun lima ciri tersebut:
1. penelitian kualitatif mempunyai setting alami sebagai sumber data langsung dan peneliti kebidanan adalah instrument utamanya
2. penelitia kualittatif bersifat diskriptif, yaitu data yang terkumpul berbentuk kata-kata , gambar bukan angka-angka.
3. penelitian kualitatif lebih menekankan proses kerja , yang seluruh fenomena yang dihadapi diterjemahkan dalam kegiatan sehari-hari, terutama yang berkaitan langsung dengan kebidanan
4. penelitian kualitatif cenderung menggunakan pendekatan induktif.
5. penelitian kualitatif memberi titik tekan pada makna, yaitu fokus penelaahan terpaut langsung dengan masalah kehidupan manusia.
Aplikasi metode kualitatif dalam penelitian ilmu-ilmu sosial dilakukan dengan langkah-langkah yaitu merumuska masalah sebagai fokus penelitia kebidanan, mengumpulkan data lapangan, menganalisis data, merumuskan hasil studi, dan menyuusun rekomendasi untuk perbaikan kinerja dalam bidang ini.


B. METODE-METODE PENELITAIAN KUALITATIF.

1. Penelitian Fenomenologi
Penelitian fenomenologi bersifat induktif . pendekatan yang dipakai adalah deskriptif yang dikembangkan dari filsafat fenomenologi. Fokus filsafat fenomenologi adalah pemahaman tentang respon atas kehadiran atau kebaradaan manusia, bukan sekedar pemahaman atas bagian-bagian yang spesifik atau prilaku khusus. Tujuan penelitian fenomenologikal adalah menjelaskan pengalama-pengalaman apa yang dialami seseorang dalam kehidupan ini, termasuk interaksinya dengan orang lain.Contoh penelitian fenomenologi atau study mengenai daur hidup masyarakat tradisional dilihat dari perspektif kebiasaan hidup sehat.
2. Penelitian Teori Grounded
penelitian grounded adalah tehnik penelitian induktif. Tekhnik ini pertama kali digagas oleh Strauss dan sayles pada tahun 1967.Pendekatan penelitian ini bermaslahat dalam menemukan problem-problem yang muncul dalam situasi kebidanan dan aplikasi proses-proses pribadi untuk menanganinya.Metodologi teori ini menekankan observasi dan mengembangkan basis praktik hubungan ”intuitif” antara variabel.Proses penelitian ini melibatkan formulasi,pengujian,dan pengembangan ulang proposisi selama penyusunan teori
3. Penelitian Etnograf
Penelitian tipe ini berusaha memaparkan kisah kehidupan keseharian orang-orang yang dalam kerangka menjelaskan fenomena budaya itu, mereka menjadi bagian integral lainnya. Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan secara sistematis dan deskriptif. Analisis data dilakukan untuk mengembangkan teori prilaku kultural.Dalam penelitian etnografi, peneliti secara aktuyal hidup atau menjadi bagian dari seting budaya dalam tatanan untuk mengumpulkan data secara sistematis dan holistik. Melalui penelitian ini perbedaan-perbedaan budaya dijelaskan, dibandingkan untuk menambah pemahaman atas dampak budaya pada perilaku atau kesehatan manusia.
4. Penelitian Historis
Penelitian historis adalah penelitian yang dimaksudkan untuk merekonstruksi kondisi masa lampau secara objktif, sistematis dan akurat. Melalui penelitian ini, bukti-bukti dikumpulkan , dievaluasi, dianalisis dan disintesiskan. Selanjutnya, berdasarkan bukti-bukti itu dirumuskan kesimpulan. Adakalanya penelitian historis digunakan untuk menguji hipotesis tertentu.Misalnya,hipotesis mengenai dugaan adanya kesamaan antara sejarah perkembangan pendidikan dari satu negara yang mengalami hegemoni oleh penjajah yang sama.
Penelitian historis biasanya memperoleh data melalui catatan catatan artifak, atau laporan-laporan verbal. Ada beberapa ciri dominan penelitian historis
• Adakalanya lebih bergantung pada data hasil observasi orang lain daripada hasil observasinya sendiri.
• Data penelitian diperoleh melalui observasi yang cermat, dimana data yang ada harus objektif,otentik, dan diperoleh dari sumber yang tepat pula.
• Data yang diperoleh bersifat sistematis menurut urutan peristiwa dan bersifat tuntas.
5. Penelitian Kasus
Penelitian kasus atau penelitian lapangan dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan dan posisi saat ini serta interaksi linkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given).Subjek penelitian dapat berupa individu,kelompok, institusi atau masyarakat.Penelitin kasus merupkan penelitian mendalam mengenai unit sosial tertentu, yang hasil penelitian itu memberi gambaran luas dan mendalam mengenai unit sosial tertentu.Subjek yang diteliti relatif terbatas, tetapi variabel-variabel dan fokus yang diteliti sangat luas dimensinya. Contoh, studi lapangan yang tuntas dan mendalam mengenai kegiatan yan paling banyak dilakukan oleh tenaga pekerja sosial selama menjalankan tugas di camp pengungsi.
6. Inquiry Filosofi
Inkuiri filisofis melibatkan penggunaan mekanisme analisis intelektual untuk memperjelas makna,membuat nilai-nilai menjadi nyata,mengindentifikasi etika, dan studi tentang hakikat pengetahuan. Peneliti filosofis mempertimbangkan ide atau isu-isu dari semua persfektif dengan eksplorasi ekstensif atas literatur,menguji atau menelaah secara mendalam makna konseptual,mermuskan pertanyaan,mengajukan jawaban, dan menyarankan implikasi atas jawaban-jawaban itu.Peneliti dipandu oleh pertanyaan- pertanyaan itu.Ada tiga ilkuiri filosofis, yaitu:
1. Foundational Inquiry
2. Philoshopical Analyses
3. Ethical Analyses
Studi fondasional mellibatkan analisis tentang struktur ilmu dan proses berfikir tentang penilaian atas fenomena tertentu tang dianut bersama oleh ”anggota” disiplin ilmiah.
Tujuan analisis filosofis adalah menguji makna dan mengembangkan teori yang diperoleh melalui analisis konsep atau analisis linguistik.inkuiri etikal melibatkan analisa intelektualatas masalah etik dikaitkan dengan andil, hak,tugas,benar dan salah, kesadran dan tanggungjawab.
7. Teori kritik sosial
Teori kritik sosial adalah filosofi lain dari sebuah metodologi kualitatif yang unik.Dipandu oleh filsafat dari teori kritik sosial,peneliti menemukan pemahaman menganai cara seseoarang berkomunikasi dan bagaimana ia mengembangkan makna makna simbolis di masyarakat.Banyak pemahaman muncul dalam sebuah dunia yang fakta kemasyarakatan tertentu diterima apa adanya,tidak didiskusikan atau diposisikan secara dogmatik.Tatana politik yang mapan itu dipersepsi sebagai tertutup bagi perubahan dan tidak patut dipertanyakan.Tatana politik semacam ini biasanya muncul pada masyarakat dibawah pemerintahan yang otoriter.

Rabu, 12 Mei 2010

Tujuan Pendidikan Islam

A. Konsep Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan ialah dunia cita, yakni suasana ideal yang ingin diwujudkan.Dalam tujuan pendidikan suasana ideal itu nampak pada tujuan akhir ( ultimate aims of educations ). Tujuan akhir biasanya dirumuskan secara padat dan singkat, seperti terbentuknya kepribadian muslim dan kematangan dan integritas kesempurnaan pribadi.
Sebagai dunia cita kalau sudah ditetapkan ia adalah idea statis.Tetapi sementara itu kualita dari tujuan itu adalah dinamis dan berkembang nilai-nilainya.Lebih-lebih tujuan pendidikan yang ada dalamnya sarat dengan nilai-nillai yang bersifat fundamentral Seperti: nilai-nilai sosial, nilai ilmiah, nilai moral dan nilai agama.Disisi kiranya orang berkeyakinan bahwa pendidikan menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingjungan hidup dan dapat memberi informasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan distribution dunia serta membantu anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan yang esensial untuk menghadapi perubahan .

Tujuan ialah apa yang dicanangkan oleh manusia.Letaknya sebagai pusat perhatian, dan demi merealisasikannyalah dia menata tingkah lakunya dalam kehidupan sosial kemasyarakata .

Berbicara tentang tujuan pendidikan, tak dapat tidak mengajak kita berbicara tentang tujuan hidup. Yaitu tujuan hidup manusia.Sebab pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Kalau begitu tujuan pendidikan itu haruslah berpangkal dari tujuan hidup, dengan menampilkan pertanyaan, apakah tujuan hidup itu dari sinilah para filosof berbeda pendapat. Orang-orang Sparta, salah-satu kerajaan Yunani lama berpendapat bahwa tujuan hidup adalah untuk berbakti kepada negara dan untuk memperkuat negara .Peengertian kuat menurut orang-orang Sparta adalah kekuatan fisik oleh sebab itu tujuan pendidikan Sparta adalah sejajar dengan tujuan hidup mereka yaitu memperkuat, memperindah dan memperteguh jasmani.


Sebaliknya orang Athena juga salah satu kerajaan Yunani lama berpendapat bahwa tujuan hidup[ adalah mencari kebenaran , dan kalau bisa menyinarkan diri pada kebenaran itu.Tetapi apakah kebenaran itu? Sebelum menjawab pertanyaan ini Plato lebih dulu menyatakan bahwa benda, konsep-konsep dan lain-lain yang kita saksikan sehari-hari, bukanl;ah benda yang sebenarnya.Dandia sekedar bayangan dan benda yang hakiki yang wujud di alam utopia.Benda-benda hakiki yang wujud itu tidak berrubah-ubah, hyanya satu dalam alam ini yang dimilikinya sedang bayang bayangnya yang kita saksikan selalu berubah tidak tetap dan terbilang.benda hakiki itu disebut “bentuk”. Manusia sendiri terdiri dari ruh dan jasad sedang jasadnya adalah materi. Karenanya segala untuk membersihkan,memelihara dan menjaaga roh itu disebut pendidikan.

Adapun konsep tujuan pendidikan maka defenisi yang paling sederhana yang mungkin disbut tentang itu adalah sebagai perubahan yang diingini yang diusahakan oleh proses pendidikan atau upaya yang diusahakan oleh proses pendidikan, atau usaha pendidikan untuk mencapainya baik pada tingkah lakunya individu pada kehidupan pribadinya mmaupun pada kehidupan masyararakat dan alam sekitar berkaita dengan individu itu hidup.Atau tujuan juga dipahami sebagai proses pendidikan sendiri dan proses pengajaran yang merupakan aktivitas asasi yang proporsional diantara profesi-profesi asasi masyarakat.

Jadi, tujuan-tujuan pendidikan jika mengikuti definisi ini adalah perubahan-perubahan yang diinginkan pada tiga bidang asasi, yaitu:
1. Tujuan-tujuan individu yang berkaitan dengan individu-individu, pelajaran yang bertaut dengan pribadi-pribadi mereka dan apa yang berkaitan dengan individu-individu tersebut, perubahan yang diinginkan terletak pada tingkah lakunya,aktivitas dan pencapaiannya dan persiapan yang dimestikan kepada mereka pada kehidupan dunia dan akhirat
2. tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat secara keseluruhan,dengan tingkah laku masyarakat umumnya dan dengan apa yang berkaitan degan kehidupan ini mengenai perubahan yang diingini,pertumbuhan, kekayaan pengalaman, dan kemajuan yang diinginkan.
3. Tujua-tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, seni, profesi, dan sebagai suatu aktivitas-aktivitas masyarakat.

B. Tujuan umum pendidikan islam
Prof.M.athiyah dalam kajiannya tentang pendidikan islam telah menyimpulkan lima tujuan umum yang asasi bagi pendidikan islam,yaitu:
1. Untuk membantuk pemberntukan akhlak yang mulia.
Kaum muslimin telah bersetuju bahwa pendidikan akhlakadalah jiwapendidikan islam , dan bahwa mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya. Tujuan pendidikan dan pengajaran dalam rangka pemikiran ilam bukanlah untuk mengisi otak pelajar dengan maklumat-maklumat kering dan mengajar mereka dengan pelajaran yang belum mereka ketahui
2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan islam menaruh perhatian penuh untuk kedua kehidupan itu sebagai tujuan di antara tujuan-tujuan uumum yang asa, sebab memang itulah tujuan yang tertinggi dan terakhiir pendidikan.
3. Persiapan untuk nencari reseki dan pemeliharaan segi-segi pemamfaatan. Pendidikan islam tidaklah semuanya bersifat agama, akhlak dan spritual semata-mata, tetapi menaruh pehatian pada segi kemamfaatan pada tujuan-tujuan kurikulum dan aktivitasnya. Islam memandang, manusia sempurna tidak akan tercapai kecuali memadukan antara ilmu pengtahuan dan agama,atau mempunyai kepeduliaan pada aspek spritual, akhlak dan pada segi-segi pemanfaatan
4. Menumbuhkan ruh ilmiah paa pelajar dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu sekedar ilmu.
5. Mnnyiapkan pelajar dari segi profesional,tekhnis dan perusahaan supaya ia juga dapat menguasai profesi tetentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu agar dapat mencari rezeki . Dengan demikian, pelajar diharapkan dapat hidup dengan mulia disamping memelihara segi kerohaniaan dan keagamaan.

Pada kajiian yang dibuat Prof. Abdurrahman an-nahlawi dalam bukunya, Dasar-dasar Pendidikan Islam dn Metode-metode Pengajarannya, empat tujuan umum Pendidikan Islam yaitu:
1. Pendidikan akal dan persiapan pikiran, pendidikan Islam memandang dengan penuh terhadap pemikiran, renungan, dan meditasi. Allah menyuruh kita memikirkan kejadian langit dan bumi supaya kita bergantung pada akal kita untuk sampai pada keimanan yang sempurna kepada Allah. Dengan ini maka persiapan di antara perkara-perkara terpenting yang digalakkan oleh Islam.
2. Menumbuhkan potensi-potensi dan bakat-bakat asalanak-anak. Islam memandang bahwa tugas pendidikan adalah menguatkan fitrah kanak-kanak, menjauhkan diri dari kesesatan dan tidak menyeleweng dari kesucian dan kelurusannya. Sabda Rasulullah saw, Artinya: Setiap anak Adam dilahirkan dengan fitrah hanya Ibu Bapaknya yang menjadikan ia Yahudi, atau Nasroni, atau Majusi.
3. Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi gerenasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya baik laki-laki maupun perempuan.
4. Berusaha menyeimbangkan segala kekuatan dan kesediaan-kesediaan manusia.

DR. Mohammad Fadlil Al-Jamaly meringkas tujuan-tujuan Pendidikan Islam yang diambul dari Al-Qur’an setidaknya enam point :
1. Mengakat taraf akhlak manusia berdasarkan pada agama yang diturunkan untuk mambimbing masyarakat pada rancangan akhlak yang telah dibuat Allah baginya.
2. Memupuk rasa cinta tanah air pada diri manusia berdasarkan pada agama yang diturunkan untuk membimbing masyarakat ke arah yang diridhoi olehnya.
3. Mewujudkan ketentraman kedalam jiwa dan aqidah yang dalam pengabdian semata-mata dan kepatuhan yang ikhlas kepada Allah.
4. Memelihara bahasa dan kesusastraan Arab sebagai bahasa Al-Qur’an.
5. Menghapus kurafat yang bercampur baur dengan hakikat agama, menyebarkan kesadaran islam yang sebenarnya dan menunjukkan hakikat agama atas kebersihan dan kecermelangannya.
6. Meneguhkan perpaduan tanah air dan menyatukan barisan melalui usaha menghilangkan perselisihan, bergabung dan bekerja sama dalam rangka prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan Islam yang terkandug dalam Al-Qur’an dan Sunah
Menurut Muhammad Quthb, tujuan umum Pendidikan Islam adalah manusia yang taqwa itulah manusia yang baik menurutnya, sungguh yang paling mulia diantara kalian menurut pandangan Allah ialah yang paling bertaqwa. (Q.S. al-Hujarat:13), manusia yang taqwa adalah manusia yang selalu beribadah kepada Allah {Q.S. al-Dzariyat;51) manusia yang senantiaa menuruti ajaran Allah (Q.S. al-Baqarah:38)
Dalam teminologi yang lain manusia yang taqwa itu disebut insan kamil atau manusia sempurna (syumul).

Tak kala membicarakan manusia sempurna, maka kita akan segera menampilkan ciri-cirinya:
1. Jasmani sehat, ciri-cirinya: sehat, kuat dan berketerampilan
2. Kecerdasn dan kepribadian,ciri-cirinya: mampu menyelesaikan masalah,secara cepat dan tepat,mampu menyelesaikan masalah-masalah secara ilmiah dan filosofis, memiliki dan mengembangan sains dan filsafat
3. Hati yang takwa, ciri-cirinya;dengan suka rela melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya
4. Hati yang berkemampuan berhubungan dengan alam ghaib.

Kualitas insan kamil,meskipun akan selalu merupakan idola ( taraf sepenuhnya hanyalah Rasulullah saw. Yang telah mampu mencapainya), jelas bukan berkembang dari pribadi manusia yang terpecah,pribadi yang timpang, amoral, sebagaimana yang ironis masih banyak yang dihasilkan oleh sistem pendidikan yang ada.sebaliknya kualitas kelulusan pendidikan insan kamil merupakan perpaduan wajah-wajah Qur’ani
Menurut Abdul Fatah Jala, tujuan umum pendidikan islam ialah terwujudnya manusia hamba Allah. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus. Dengan mengutip QS.at-Takwir :27 Jalal mengatakan bahwa tujuan itu ialah untuk semua manusia. Jadi menurut islam pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia sebagai makhluk yang menghambakan diri kepda Allah

Tujuan umum pendidikan islam diberi perhatian dan tidak terkena perubahan dari waktu ke waktu. Finalitas kenabian secara implisit menyatakan finalitas cita-cita yangbdiiajarkan Nabi Saw.Jadi, tujuan umum pendiudikan islam adalah tujuan yang berada jauh dari masa sekarang, sebuah hasil pencapaian yang tidak dapat terlaksana melalui sekali kerja. Takwa kepada Allah merupakan tujuan tertinggi dalam pendidikan islam, ia sebagai ultimate goal dari serangkaian tujuan yang ditampilkan di atas dari masing-masing tujuan tersebut mempunyai hubungan sistematik satu sama lainnya yang tak dapat dipisahkan.

C. Tujuan khusus Pendidikan Islam
Adapun yang dimaksud dengan tujuan khusus adalah perubahan-perubahan yang diingini yang bersifat cabang dan bagian yang termasuk di bawah tujuan umum –pendidikan.
Dengan kata lain gabungan pengetahuan, keterampilan, pola-pola tingkah laku, sikap, nilai-nilai dan kebijaksanaan-kebijaksanan yang terkandung dalam tujuan tertinggi atau umum bagi pendidikan,yang tanpa terlaksananya, tujuan tertinggi atau umum juga tidak akan terlaksana dengan sempurna. Sebagai contoh,tujuan ”menumbuhkan semangat agama dan akhlak”pada tahap tujuan umum, maka kita akan dapati bahwa tujuan akhir atau tujuan umu yang serupa ini menghendaki terlaksananya berbagai tujuan khusus atau tertentu. Diantara tujuan-tujuan khusus yang mungkin dimasukkan di bawah ”penumbuhan dorongan agama dan akhlak” adalah tujuan-tujuan sbb:
1. mempekenalkan kepada generasi muda akan akidah-akidah islam, dasar-dsrnya, usul-usul ibadah, dengan cara-cara melaksanakannya dengan betul, dengan membiasakan mereka berhati-hati,dan menghormati syiar-syiar agama.
2. menumbuhkan ksedaran yang betul pad diri pelajar terhadap agama termasuk prinsip-prinsip dan dasar-dasar yang mulia.juga membuang bid’ah-bid’ah, khurafat dan kebiasaan usang yang melekat kepada islam.
3. menambah keimanan kepada allah, pencipta alam, juga kepada malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, dan hari akhir berdasar pada paham kesadaran dan keharusan perasaan.
4. menumbuhkan minat generasi mudah untuk menambah pengetahuan dalam adab dan pengetahuan keagamaan agar patuh mengikuti hukum-hukum agama dengan kecintaan dan kerelaan.
5. menanamkan rasa cinta dan penghargaan kepada al-qur’an, berhubungan dengannya, membaca dengan baik, memahaminya, dan mengamalkan ajaran-ajarannya.
6. menumbuhkan rasa bangga terhadap[ sejarah dan kebudayaaan islam dan pahlawan-pahlawannya dan berusaha mengikuti jejak mereka.
7. menumbuhkan rasa rela, optimisme, kepercayaan diri, tanggung jawab, menghargai kewajiban, tolong menolong atas kewajibaqn dan taqwa dan sebagainya.
8. mendidik naluri, motivasi, keinginan generasi mudah, dan membentengi mereka menahan motivasi-motivasinya, mengatur emosi dan mem,bimbingnya dengan baik. Begitu juga mengajari mereka, berpegang dengan adat kesopanan pada hubungan dan pergaulan mereka, baik disekolah dirumah atau dilinkungan masyarakat.
9. menanamkan iman yang kuat kepada allah pada diri mereka, menguatkan perasaaan agama, menyuburkan hati mereka dengan kecintaan, dzikir dan taqwa kepada allah.
10. membersihkan hati mereka dari dengki, iri hati, benci, kedzaliman, perpecahan dan perselisihan.

D. Simpulan
Jadi menurut islam pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia sebagai makhluk yang menghambakan diri kepda Allah

Tujuan umum pendidikan islam diberi perhatian dan tidak terkena perubahan dari waktu ke waktu. Finalitas kenabian secara implisit menyatakan finalitas cita-cita yangbdiiajarkan Nabi Saw.Jadi, tujuan umum pendiudikan islam adalah tujuan yang berada jauh dari masa sekarang, sebuah hasil pencapaian yang tidak dapat terlaksana melalui sekali kerja. Takwa kepada Allah merupakan tujuan tertinggi dalam pendidikan islam, ia sebagai ultimate goal dari serangkaian tujuan yang ditampilkan di atas dari masing-masing tujuan tersebut mempunyai hubungan sistematik satu sama lainnya yang tak dapat dipisahkan.

Selasa, 11 Mei 2010

Islamisasi Ilmu*

Sekitar tahun 1992 Prof. Dr. Mukti Ali di sela-sela sebuah seminar di Gontor, tiba-tiba bergumam, “Bagi saya Islamisasi ilmu pengetahuan itu omong kosong, apanya yang diislamkan, ilmu kan netral”. Prof. Dr. Baiquni yang waktu itu bersama beliau langsung menimpali, “Pak Mukti tidak belajar sains, jadi tidak tahu di mana tidak Islamnya ilmu (sains) itu.”

Pak Mukti dengan antusias, menyahut, “Masa iya, bagaimana itu?” “Sains di Barat itu pada tahap asumsi dan presupposisinya tidak melibatkan Tuhan,” jawab Baiquni. “Jadi ia menjadi sekuler dan anti-Tuhan.” Pak Mukti dengan kepolosan dan sikap akademiknya spontan menjawab lagi, “Oh begitu”. Diskusi terus berlangsung dan soal ilmu serta Islamisasinya menjadi topik menarik.

Benarkah ilmu pengetahuan masa kini itu tidak mengakui adanya Tuhan? Pernyataan Prof. Baiquni sejalan dengan apa kata R.Hooykaas dalam Religion and The Rise of Modern Science. Di Barat, dunia dulunya digambarkan sebagai organisme, tapi sejak datangnya Copernicus hingga Newton, bergeser menjadi mekanisme. Pergeseran cara pandang ini pada abad ke-17 telah diprotes pengikut Aristotle. Menurut mereka, pandangan terhadap dunia yang mekanistis itu telah menggiring manusia kepada atheisme (kekafiran).

Tapi pendukung mekanisme seperti Beeckman, Basso, Gasendi, dan Boyle tidak terima. Dengan dalih konsep mukjizat, Boyle misalnya, beralasan, gambaran mekanistis bisa juga religius. Karena jika materi dan gerak yang menjadi esensi organisme tidak cukup untuk menerangkan fenomena alam, maka ini berarti memungkinkan adanya intervensi Tuhan melalui mukjizat. Artinya masih ada peran Tuhan di situ. Tuhan bisa sewaktu-waktu turun tangan mempengaruhi kausalitas alam semesta. Inilah occassionalisme yang menjadi doktrin Kristen hingga kini. Artinya Tuhan itu sangat transenden, berada jauh di sana dan tidak terjangkau. Sementara alam berada di sini dan tidak selalu di bawah pengawasan Tuhan.

Menggambarkan dunia sebagai mekanisme, berarti melihatnya sebagai mesin. Bagi yang atheis, mesin itu ada dengan sendirinya. Bagi yang theis, mesin itu diciptakan. Tapi di Barat kekuasaan Pencipta itu direduksi dan akhirnya dihilangkan. Dunia dulu diciptakan, namun kini bebas dari Penciptanya. Masih belum lama ketika Henri de Monantheuil, seorang penulis Perancis, pada tahun 1599 menyatakan bahwa Tuhan adalah pencipta mesin dan ciptaan-Nya, yaitu dunia ini, berjalan bagaikan sebuah mesin. Tentu, ini membuat jamaah gereja berang. Tuhan gereja dianggap tidak ikut campur urusan dunia.

Faham mekanisme tentang dunia inilah yang menguasai alam pikiran Barat modern. Paradigma positivisme dan empirisisme dalam sains Barat menjadi subur. Otoritas memahami dunia, kini berpindah dari gereja ke tangan saintis. Descartes, Gassendi, Pascal, Berkley , Boyle, Huygens, dan Newton yang konon membela Tuhan, akhirnya merebut otoritas Tuhan. Kesombongan pemikir Yunani ditiru, dan jargonnya “Man is the standard of everything” dinyanyikan ulang. Benar-salah, baik-buruk tidak perlu campur tangan Tuhan. Wahyu dikalahkan akal atau diganti dengan akal.

Jika dulu gereja bisa marah pada Copernicus dan Galelio dan menghukum Bruno, kini hanya dapat menangisi ulah para saintis. Sementara para saintis seperti tidak mau repot dan mengambil posisi, “yang tidak bisa dibuktikan secara empiris, bukan sains”. Teologi tidak bisa masuk dalam sains. Bicara fisika tidak perlu melibatkan metafisika. Argumentasi Francis Bacon sangat empiristis, “Ilmu berkembang karena kesamaan-kesamaan, sedangkan Tuhan tidak ada kesamaannya.” Maka dari itu dalam teori idola-nya Bacon mewanti-wanti agar tidak melakukan induksi berdasarkan keyakinan.

Selain itu Bacon juga mengakui, kita ini bodoh tentang kehendak dan kekuasaan Tuhan yang tersurat dalam wahyu dan tersirat dalam ciptaan-Nya. Descartes berpikiran sama, kehendak Tuhan tak dapat dipahami sehingga menghalangi jalan rasionalisme. Terus? “Kita tidak perlu takut melawan wahyu Tuhan dan melarang meneliti alam ini,” katanya. Sebab tidak ada larangan dalam wahyu. Tuhan memberi manusia hak menguasai alam. Oleh sebab itu kita bisa seperti Tuhan dan mengikuti petunjuk akal kita. Jadi, sebenarnya para saintis bukan tidak percaya Tuhan, tapi mereka kesulitan mengkaitkan teologi dengan epistemologi. Tragedinya, standar kebenaran dan metode penelitian pun akhirnya dimonopoli oleh empirisisme rasional.

Sebenarnya argumentasi Descartes dan Bacon masih belum beranjak dari pertanyaan Ibn Rusyd kepada al-Ghazali. Namun karena Ibn Rusyd terlanjur lebih populer di kalangan gereja dengan Averoismenya, pikiran al-Ghazali tidak dianggap. E. Gillson dalam karyanya Revelation and Reason jelas sekali menyalahkan Ibn Rusyd. Sebab dengan teori kebenaran gandanya, ia dianggap telah menabur benih sekularisme pada Descartes, Malebanche, David Hume, dan pemikir Barat lainnya. Tuhan tetap disembah dan diyakini wujud-Nya, tapi tidak ditemukan hubungannya dengan pikiran, ilmu atau sains.

Al-Attas segera sadar ilmu pengetahuan modern ternyata sarat nilai Barat. Andalannya akal semata dengan cara pandang yang dualistis. Realitas hanya dibatasi pada Being yang temporal dan human being menjadi sentral. Ismail al-Faruqi dan Hossein Nasr mengamini. Al-Faruqi menyoal dualisme ilmu dan sistem pendidikan muslim. Nasr mengkritisi, mengapa jejak Tuhan dihapuskan dari hukum alam dan dari realitas alam. Ketiganya seakan menyesali, seandainya yang menguasai dunia bukan Barat eksploitasi alam yang merusak itu tak pernah terjadi.

Ilmu yang seperti itu harus diislamkan, kata al-Attas. Namun mengislamkan ilmu itu tanpa syahadat dan jabat tangan sang qadi. Diislamkan artinya dibebaskan, diserahdirikan kepada Tuhan. Dibebaskan dari faham sekular yang ada dalam pikiran muslim. Khususnya dalam penafsiran-penafsiran fakta-fakta dan formulasi teori-teori. Pada saat yang sama dimasuki konsep din, manusia (insan), ilmu (ilm dan ma’rifah), keadilan (‘adl), konsep amal yang benar (amal sebagai adab), dan sebagainya. Jika Thomas Kuhn tegas bahwa ilmu itu sarat nilai, dan paradigma keilmuan harus diubah berdasarkan worldview masing-masing saintis. Bagi santri yang cerdas, tentu akan bergumam, la siyyama Muslim.

Lalu apakah setelah itu akan lahir mobil Islam, mesin Islam, pesawat terbang Islam, dan sebagainya? This is silly question, kata al-Attas suatu ketika. Yang diislamkan adalah ilmu dalam diri al-alim, dan bukan al-ma’lum (obyek ilmu), bukan pula teknologi. Yang diislamkan adalah paradigma saintifiknya dan sekaligus worldview-nya. Jika paradigma dan worldview-nya telah berserah diri pada Tuhan, maka sains dapat memproduk teknologi yang ramah lingkungan. Teknologi bisa serasi dengan maqasid syariah dan bukan dengan nafsu manusia.

Dengan worldview Islam akan lahir ilmu yang sesuai dengan fitrah manusia, fitrah alam semesta, dan fitrah yang diturunkan (fitrah munazzalah), yakni Al-Qur’an, meminjam istilah Ibn Taymiyyah. Dengan paradigma keilmuan Islam akan muncul ilmu yang memadukan ayat-ayat Qur’aniyah, kauniyyah, dan nafsiyyah. Hasilnya adalah ilmun-nafi’ yang menjadi nutrisi iman dan pemicu amal. Itulah cahaya yang menyinari kegelapan akal dan kerancuan pemikiran.

* Oleh : Hamid Fahmy Zarkasyi

Senin, 10 Mei 2010

Kaidah Ushuliyyah Dalam Ushul Fiqih

A. Pendahuluan
Nash atau teks Al-Qur’an dan Hadits dalam teori terbagi dua, qoth’i (pasti) dan dhonni (dugaan). Itu dipandang dari segi dalalah dan wurud (penunjukan makna dan datangnya) nash. Sedang nash qoth’i itu sendiri bisa digolongkan menjadi tiga: Kalamiyyah, Ushuliyyah, dan Fiqhiyyah.
Yang dimaksud kalamiyyah ialah naqliyah semata, dan dalam hal ini yang benar hanya satu. Maka barangsiapa yang melakukan kesalahan terhadap hal ini, ia berdosa. Nash jenis ini di antaranya tentang kejadian alam dan penetapan wajib adanya Allah dan sifat-sifatNya, diutusnya para rasul, mempercayai mereka dan mu’jizat-mu’jizatnya dan sebagainya. Kemudian apabila kesalahan seseorang itu mengenai keimanan kepada Allah dan rasul-Nya maka yang bersalah itu kafir, kalau tidak maka ia berdosa dari segi bahwa ia menyimpang dari kebenaran dan tersesat.
Adapun ushuliyyah adalah seperti ijma’ dan qiyas serta khabar ahad sebagai hujjah, maka masalah-masalah ini dalil-dalilnya adalah qoth’iyyah. Orang yang menyalahinya adalah berdosa.
Mengenai masalah fiqhiyyah yang termasuk keadaan qoth’i yaitu shalat 5 waktu, zakat, puasa, pengharaman zina, pembunuhan, pencurian, minun khamar/ arak dan semua yang diketahui secara pasti dari agama Allah. Maka yang benar dari masalah-masalah itu adalah satu, dan itulah yang diketahui. Sedang orang yang menyalahinya adalah berdosa.
Setelah kita mengetahui yang qoth’i seperti tersebut, maka bisa ditarik garis sebagai berikut:
1. Apabila seseorang menyelisihi hal-hal yang diketahui secara dhoruri dari maksud al-Syari’ (hal-hal yang setiap Muslim wajib tahu), maka ia adalah kafir, karena pengingkarannya tidak timbul kecuali dari orang yang mendustakan syara’. (Misalnya orang mengingkari keesaan Allah, mengingkari wajibnya shalat 5 waktu, wajib puasa Ramadhan dsb, maka pengingkarnya itu adalah kafir).
2. Apabila masalahnya mengenai hal yang diketahui secara pasti, dengan jalan penyelidikan, seperti hukum-hukum yang dikenal dengan ijma’, maka pengingkarnya bukan kafir, tetapi ia bersalah dan berdosa. (Contohnya, mengingkari tidak bolehnya perempuan mengimami shalat lelaki, maka pengingkarnya adalah berdosa).
3. Adapun masalah fiqhiyyah yang dhonni, yang tidak mempunyai dalil pasti, maka masalah ini jadi tempat ijtihad dan tidak ada dosa atas mujtahid dalam masalah itu menurut orang yang berpendapat bahwa yang tepat adalah satu, dan tidak (berdosa) pula menurut orang yang mengatakan setiap mujtahid adalah tepat.

B. Pengertian dan fungsi Qaidah Ushuliyyah
Pengertian qaidah secara etimologi adalah asas (dasar), yaitu yang menjadi dasar berdirinya sesuatu. Atau dapat juga diartikan sebagai dasar sesuatu dan fondasinya (pokoknya). 2
Sementara itu Ushuliyyah adalah Dalil syara’ yang bersifat menyeluruh, universal, dan global (kulli dan mujmal). Jika objek bahasan ushul fiqih antara lain adalah qaidah penggalian hukum dari sumbernya, dengan demikian yang dimaksud dengan qaidah ushuliyyah adalah sejumlah peraturan untuk menggali hukum. Qaidah ushuliyyah itu umumnya berkaitan dengan ketentuan dalalah lafaz atau kebahasaan.
Sumber hukum adalah wahyu yang berupa bahasa, sementara qaidah ushuliyyah itu berkaitan dengan bahasa. Dengan demikian qaidah ushuliyyah berfungsi sebagai alat untuk menggali ketentuan hukum yang terdapat dalam bahasa (wahyu) itu.
Menguasai qaidah ushuliyyah dapat mempermudah fakif untuk mengetahui hukum Allah dalam setiap peristiwa hukum yang dihadapinya. Dalam hal ini Qaidah fiqhiyah pun berfungsi sama dengan qaidah ushuliyyah, shingga terkadang ada suatu qaidah yang dapat disebut qaidah ushuliyyah dan qaidah fiqkiyah.

C. Beberapa Contoh Qaidah Ushuliyyah
a.Yang dipandang dasar(titik talak) adalah petunjuk umum dasar lafazh bukan sebab Khusus (latar belakang kejadian)
b.Bila dalil yang menyuruh bergabung dengan dalil yang melarang maka didahulukan Dalil yang melarang.
c.Makna implicit tidak dijadikan dasar bila bertentangan dengan makna eksplisit.
d.Lafazh nakirah dalam kalimat negatif(nafi) mengandung pengertian umum.
e.Petunjuk nash didahulukan daripada petunjuk zahir.
f.Petunjuk perintah (amr) menunjukan wajib. Seperti contoh kasus fiqhnya pada QS 5/1 (memenuhi janji adalah wajib).
g.Tidak dibenarkan berijtihad dalam masalah yang ada nash-nya.
h.Dalalah lafazh mutlak dibawa pada dalalah lafazhmuqayyad.
i.Perintah terhadap sesuatu berarti larangan atas kebalikannya.

D. Lafazh Dan Dalalahnya
1. Pengertian Mujmal dan Mubayyan
Hampir delapan puluh persen penggalian hukum syariah menyangkut lafazh. Agar tidak membingungkan para pelaku hukum, maka lafazh–lafazh yang menunjukkan hukum harus jelas dan tegas, kenyataannya petunjuk (dilalah) lafazh-lafazh yang terdapat dalam nash syara ‘itu beraneka ragam, bahkan ada yang kurang jelas (khafa).
Suatu lafazh yang tidak mempunyai kemungkinan makna lain disebut mubayyan atau nash. Bila ada dua makna atau lebih tanpa diketahui yang lebih kuat disebut mujmal. Namun bila ada makna yang lebih tegas dari makna yang ada disebut zhahir. Dengan demikian yang disebut mujmal adalah lafazh yang cocok untuk berbagai makna, tetapi tidak ditentukan makna yang tidak dikehendaki, baik melalui bahasa maupun menurut kebiasaan pemakaiannya (Al-ghazali:145).
Sifat mujmal itu dapat terjadi pada kosa kata (mufradat), seperti lafazh guru’ bisa berarti suci dan haid, dapat juga terjadi pada kata majemuk (munkkab) seperti mukhathab yang terdapat pada surat Al-baqarah: 237, yang bisa berarti suami atau wali. Terdapat juga pada kata kerja seperti lafazh asas yang bisa berarti menghadap dan membelakangi, pada huruf seperti pada wauataf bisa berarti memulai dan menyambungkan (dan).
Hukum melaksanakan lafazh mujmal bergantung pada bayan atau penjelasan. Untuk mengungkap lafazh tersebut dapat digunakan beberapa teori yang telah di ungkapkan oleh para ulama terdahulu. Demikian juga terdapat beberapa teori ulama tentang tingkat kejelasan lafazh dan cara memadukan antara tingkatan-tingkatan jelas tidaknya suatu lafazh.Hal tersebut akan diuraikan lebih lanjut.

2. Tingkatan Lafazh dari Segi Kejelasannya.
Ada dua kelompok pendapat tentang tingkat dilalah Lafazh dari segi kejelasan, Golongan Hanafiyah dan Golongan Mutakalimin. Masing-masing digambarkan dengan bagan berikut:
Pembagian lafazh itu sebenarnya dilihat dari segi mungkin atan tidaknya di-takwil atau di-nasakh. Dilihat dari peringkat kejelasan lafazh itu Menurut golongan Hanafiyah, dimulai dari yang jelasnya bersifat sederhana (Zhahir), cukup jelas (nash), sangat jelas (mufassar), dan super jelas (muhkam).
2.1 Pembagian Lafazh dari Segi Kejelasannya menurut Ulama Hanafiah
2.1.1 Zhahir
Berikut beberapa definisi tentang Zahir:
“Suatu nama bagi seluruh perkataan yang jelas maksudnya bagi pendengar, melalui bentuk lafazh itu sendiri.” ( Bazdawi, 1307 H. I:46)
“Sesuatu yang dapat diketahui maksudnya dari pendengaran itu sendiri tanpa harus dipikirkan lebih dahulu.” ( As-Sarakhsi, 1372, I:164)
Untuk memahami zhahir itu tidak memerlukan petunjuk lain, melainkan langsung dari rumusan lafazh itu sendiri. Namun, lafazh itu tetap mempunyai kemungkinan lain, sehingga Muhammad Adib Salih menyimpulkan bahwa zhahir itu adalah:
“Suatu lafazh yang menunjukan suatu makna dengan rumusan lafazh itu sendiri tanpa menunggu qarinah yang ada diluar lafazh itu sendiri ,namun mempunyai kemungkinan ditakhsis, ditakwil, dan dinasakh.(Muhammad Adib Salih,1984,I : 143)
Contoh : ” Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
Ayat tersebut petunjuknya jelas, yaitu mengenai halalnya jual beli dan haramnya riba. Petunjuk tsb diambil dari lafazh itu sendiri tanpa memerlukan Qarinah lain.
Masing-masing dari lafazh al-bay‘ dan ar-riba merupakan lafazh ‘amm yang mempunyai kemungkinan di-takhsis. Kedudukan lafazh zhahir adalah wajib diamalkannya sesuai petunjuk lafazh itu sendiri sepanjang tidak ada dalil yang mentakhsisnya, men-takwil-nya atau me-nasakh-nya.
2.1.2 Nash
Nash mempunyai tambahan kejelasan. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya, melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah.
Menurut bahasa, Nash adalah raf ‘u asy-syai atau munculnya segala sesuatu yang tampak, sering disebut manashahat, menurut istilah didefinisikan sebagai berikut:
“ Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahir bila ia dibandingkan dengan lafazh zhahir.” (Ad-Dabusi)
“Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari sipembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri.” (Al-Bazdawi)
Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud Nash itu adalah:
“Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum yang jelas, yang diambil menurut alur pembicaraan, namun ia mempunyai kemungkinan ditakhsish dan ditakwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. Selain itu, ia dapat dinasakh pada zaman risalah (zaman Rasul).”
Sebagai Contoh, pada contoh Zahir sebelumnya, dilalahnya tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba. Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. Disini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa.
Kedudukan hukum lafazh Nash sama dengan hukum lafazh zhahir, yaitu wajib diamalkan petunjuknya atau dilalah-nya asal tidak ada dalil yang menakwilkan, mentakhsis atau menasakhnya. Perbedaan antara zhahir dan nash adalah kemungkinan takwil, takhsis, atau nasakh pada lafazh nash lebih jauh dari kemungkinan yang terdapat pada lafazh zhahir. Oleh sebab itu, apabila terjadi pertentangan antara lafazh zhahir dengan lafazh nash, maka lafazh nash lebih didahulukan pemakaiannya dan wajib membawa lafazh zhahir pada lafazh Nash.
2.1.3 Mufassar
Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan suatu hukum dengan petunjuk yang tegas dan jelas, sehingga petunjuknya itu tidak mungkin ditakwil atau ditakhsis, namun pada masa Rasullullah masih bisa dinasakh. Menurut (As-Sarakhsi, 372 H. I: 165 ):
“ Suatu nama untuk sesuatu yang terbuka dan dapat diketahui maksudnya dengan jelas serta tidak ada kemungkinan ditakwil.”
Dengan definisi ini maka kejelasan petunjuk mufassar lebih tinggi daripada petunjuk zhahir dan nash. Sebab pada petunjuk zhahir dan nash masih terdapat kemungkinan ditakwil atau ditaksis, sedangkan pada lafazh mufassar kemungkinan tersebut sama sekali tidak ada. Sebagai contoh firman Allah SWT:
“Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuannya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” ( QS. At-Taubah : 36 )
Dilalah mufassar wajib diamalkan secara qath’i, sepanjang tidak ada dalil yang me-nasakh-nya. Apabila terjadi pertentangan antara dilalah mufassar dengan dilalah Nash dan zhahir maka dilalah mufassar harus didahulukan. Lafazh mufassar tidak mungkin dipalingkan artinya dari zhahir-nya, karena tidak mungkin ditakwil dan ditakhsis, melainkan hanya bisa di-nasakh atau diubah apabila ada dalil yang mengubahnya.
2.1.4 Muhkam
Muhkam menurut bahasa diambil dari kata ahkama, yang berarti atqama, yaitu pasti dan tegas. Secara istilah menurut As-Sarakhsi “Muhkam itu menolak adanya penakwilan dan adanya nasakh.”
Sehingga Muhkam adalah suatu lafazh yang menunjukan makna dengan dilalah tegas dan jelas serta qath’i, dan tidak mempunyai kemungkinan di-takwil, di-takhsis, dan dinasakh meskipun pada masa Nabi, lebih–lebih pada masa setelah Nabi.
Misalnya firman Allah SWT berikut yang sangat jelas dan tegas dan tidak mungkin diubah :
” Dan Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.”
Apabila lafazh Muhkam khash, tidak bisa di-takwil dengan arti lain. Dan apabila lafazhnya ‘amm, tidak bisa di-takhsis dengan makna khash. Contoh Firman Allah SWT, tentang haramnya menikahi janda Rasullullah. Sehubungan dengan lafazh muhkam itu tidak bisa di-nashakh, maka muhkam itu terbagi kepada dua, ada muhkam dzat dan muhkam ghair dzat. Karena terkadang nasakh itu bisa dari nash itu sendiri atau dari luar nash.
Dilalah muhkam wajib diamalkan secara qath’i, tidak boleh dipalingkan dari maksud asalnya dan tidak boleh dihapus. Dilalah muhkam lebih kuat daripada seluruh macam dilalah yang disebut diatas. Jika terjadi pertentangan maka yang harus didahulukan adalah dilalah muhkam.

2.2 Kegunaan Pembagian Lafazh Menurut Kejelasannya dan Pengaruhnya
terhadap penetapan Hukum
2.2.1 Pertentangan antara zhahir dan nash
Misalnya dihalalkannya menikahi wanita tanpa dibatasi jumlahnya (Zhahir)
”dan dihalalkan bagi kamu apa yang dibelakang (selain) demikian itu bahwa kamu mencari dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.” (QS. An-Nisa :24)
yang bertentangan dengan halalnya menikahi wanita itu dengan dibatasi empat orang saja (Nash).
”Dan jika kamu tidak dapat berlaku adil terhadap anak2 yatim (perempuan), maka kawinilah perempuan-perempuan yang kamu senangi dua, tiga, empat.Maka jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (hendaklah cukup satu saja, atau kawinilah budak –budak yang kamu miliki…..” (QS. An-Nisa : 3).
Dilalah yang diambil adalah yang kedua, sebab dilalah yang kedua itu dilalah nash, dan dilalah nash lebih kuat daripada dilalah zhahir.
2.2.2 Pertentangan antara Muhkam dengan Nash
Misalnya, surat An-Nisa : 3 yang menghalakan menikahi wanita dengan dibatasi empat orang (Nash). Dengan Al-Ahjab ayat 53:
”Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasullullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya sesudah ia wafat selama- lamanya……” (QS. Al- Ahzab : 53)
Walaupun dihalakan menikahi wanita mana saja termasuk janda Rasullullah dengan syarat tidak melebihi empat. Namun ayat Al-Ahjab ayat 53 mengharamkan mengawini janda Rasullullah .Dengan demikian maka harus diambil dilalah ayat yang kedua, karena dilalah ayat ini muhkam.
2.2.3 Pertentangan antara Nash dengan Mufassar
Dari ‘Aisyah, ia berkata “Fatimah binti Abu Hubaisy datang kepada Rasullullah dan ia berkata “sesungguhnya aku ini dalam keadaan mustahadah, sehingga aku tidak bisa bersuci, apakah aku harus meninggalkan shalat ?” Rasullullah menjawab. “tidak, Karena mustahadah bukan darah haid. Jauhilah shalat pada waktu haidmu, kemudian mandilah dan berwudulah untuk setiap shalat, dan shalatlah sekalipun dalam keadaan mustahadah.”( As-Syaukani, I : 299 ).
Dalam riwayat lain memakai ungkapan, “berwudulah setiap waktu shalat.” (Az-Zayla’i, I, t,t : 125).
Pada hadits pertama wanita mutahadah wajib berwudu untuk setiap shalat, sekali saja. sedangkan hadis riwayat kedua, untuk waktu seluruh shalat, sehingga berlaku untuk beberapa kali, dengan satu wudu selama waktu untuk melakukan shalat itu masih ada.
Hadis riwayat pertama berbentuk Nash, sedangkan hadis riwayat yang kedua berbentuk mufassar. Sehingga harus mendahulukan hadis kedua, karena termasuk mufassar.
2.2.4 Pertentangan antara Mufassar dengan Muhkam
“..dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu” ( QS. Ath- Thalaq : 2) dengan surat An – Nur ayat 4:
“….dan janganlah kamu terima persaksian mereka buat selama-lamanya”
Ayat pertama termasuk mufassar, diterimanya kesaksian yang adil dari siapa saja. Ayat kedua termasuk muhkam. Ayat ini menunjukkan tidak bisa diterima kesaksian orang yang menuduh zina (qadzaf ), sungguhpun ia bertobat. Dalam hal ini menurut sebagian ulama digunakan ayat yang kedua.
2.3 Tingkatan- Tingkatan Kejelasan Lafazh menurut Mutakalimin (Syafi’iyyah)
Menurut Imam Syafi’i tingkatan Kejelasan Lafazh hanya dua, yang tidak membedakan antara zhahir dengan nash. Pada perkembangan selanjutnya, setelah Imam Asy-Syafi’i, nash dan zhahir ini dibedakan pengertian masing-masing, Nash adalah suatu lafazh yang tidak mempunyai kemungkinan ditakwil, sedangkan zhahir mempunyai kemungkinan untuk ditakwil. Seperti yang diungkapkan oleh Al-Gazali, “Suatu lafazh yang sama sekali tidak mempunyai kemungkinan ditakwil, baik takwil dekat maupun takwil jauh.“ Dan ” Lafazh yang tidak mungkin ditakwil, yang diterima serta muncul dari dalil. Adapun kemungkinan yang didukung dengan dalil maka lafazh itu tidak keluar dari lafazh nash.” (Al–Gazali, I, 1322 H, : 385- 386).
3. Tingkatan Lafazh menurut Ketidakjelasannya.
3.1 Tingkatan Lafazh menurut Ketidakjelasan menurut Hanafiyah
3.1.1 khafi
Menurut bahasa adalah tidak jelas atau tersembunyi, sedangkan menurut istilah,
”suatu lafazh yang maknanya menjadi tidak jelas karena hal baru yang ada diluar lafazh itu sendiri, sehingga arti lafazh itu perlu diteliti dengan cermat dan mendalam.” (Al-Dabusi)
”suatu lafazh zhahir yang jelas maknanya, tetapi lafazh itu sendiri menjadi tidak jelas karena ada hal baru yang mengubahnya, sehingga untuk mengatasinya tidak ada jalan lain, kecuali dengan penelitian yang mendalam.” (Muhammad Adib Salih, 1982 : 230).
Sebagai contoh pengertian lafazh as-sariq yang tegas pada orang yang mengambil harta berharga milik orang lain secara diam-diam untuk dimiliki, pada tempat yang terpelihara. Jika pengertian ini diterapkan pada masalah lain yang sama, seperti pencopet, pencuri barang-barang dalam kuburan, korupsi, maka lafazh itu sendiri menjadi tidak tegas.
3.1.2 Musykil
Musykil menurut bahasa ialah sulit, atau sesuatu yang tidak jelas perbedaannya, sedangkan menurut istilah,
”suatu lafazh yang tidak jelas artinya dan untuk mengetahuinya diperlukan dalil dan qarinah”. (As-Sarakhsi, I, 1372 H : 168).
”yang dimaksud musykil adalah suatu lafazh yang tidak jelas maksudnya karena ada unsur kerumitan, sehingga untuk mengetahui maksudnya diperlukan adanya qarinah yang dapat menjelasan kerumitan itu,dengan jalan pembahasan yang mendalam.” (Muhammad Adib Salih,1982,I:254).
Perbedaan antara khafi dan musykil itu terletak pada dzatiah lafazh itu sendiri. Oleh sebab itu, musykil lebih tinggi kadar kemubhamannya daripada khafi. Sebagai contoh kata an-na pada surat Al Baqarah : 223 yang berarti: kaifa, aina, dan mata. Mana yang lebih cocok dari ketiga makna tersebut. Para ulama ada yang mengambil pengertian kaifa, seperti Ibnu Abbas dan Ikrimah dan lain- lain. Mereka mengartikan ayat itu adalah boleh menggauli istri bagaimana maunya, kecuali pada dubur dan diwaktu haid. Ada yang mengartikan, selagi ia menghendakinya.
3.1.3 Mujmal
Mujmal dalam bahasa adalah global atau tidak terperinci. Menurut istilah,
”lafazh yang tidak bisa dipahami maksudnya, kecuali bila ada penafsiran dari pembuat mujmal (Syari’)” (As-Sarakhsi,I,1372H :168)
Jadi mujmal itu adalah suatu lafazh yang dzatiahnya khafi, tidak bisa dipahami maksudnya, kecuali bila ada penjelasan dari syara’. Ketidakjelasannya dapat karena peralihan lafazh dari makna yang jelas pada makna khusus yang dikehendaki syara’, karena sinonim lafazh itu sendiri, ataupun karena lafazh itu ganjil artinya.
Karena penjelasan mujmal diperoleh dari syara’bukan hasil ijtihad sehingga mujmal lebih tinggi kadar khafa-nya daripada musykil. Contohnya lafazh shalat, menurut bahasa berarti doa, tetapi menurut istilah syara’adalah ibadah khusus yang segala sesuatunya dijelaskan oleh Rasullullah.
Namun keharusan adanya penjelasan dari syara’tentang lafazh mujmal itu timbul masalah, yaitu sejauh manakah penjelasan syara’ itu. Sunnah dapat memberikan penjelasan mujmal sepanjang tidak ada penjelasan nash Al-Quran. Oleh sebab itu untuk mencari penjelasan mujmal terlebih dahulu harus melihat nash Al-Quran.
3.1.4 Mutasyabih
Mutasyabih menurut bahasa adalah sesuatu yang mempunyai kemiripan dan atau simpang siur. Atau lafazh yang tidak ditunjukkan oleh lafazhnya itu sendiri kepada maksudnya itu dan tidak terdapat qarinah luar yang menerangkannya. 3 Menurut istilah,
berdasarkan pendapat sebagian ulama adalah ”suatu lafazh yang maknanya tidak jelas dan juga tidak ada penjelasan dari syara, baik Al-Quran maupun Sunah, sehingga tidak bisa diketahui oleh semua orang, kecuali orang- orang yang mendalam ilmu pengetahuannya” (Asy-Syarakhsi, I, 1372 H.: 169).

3.2 Pembagian Lafazh Ditinjau dari Segi Ketidakjelasannya menurut Ulama
Mutakallimin
Pendapat golongan Mutakallimin (syafi’iyyah) secara umum dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan mujmal adalah suatu lafazh yang menunjukkan makna yang dimaksud, tetapi petunjuknya tidak jelas, sehingga makna yang dimaksud lafazh itu memerlukan penjelasan, seperti, lafazh shalat dan zakat. Sebagian mereka ada yang menyamakan lafazh mutasyabih dengan mujmal, yaitu suatu lafazh yang tidak jelas maknanya, dan ada pula yang membedakan antara mujmal dan Mua’wwal. Hanya saja perbedaan antara mujmal dengan Mua’wwal terletak pada kuat (rajih) dan lemah (marjuh) makna yang di maksud. Makna yang dimaksud pada lafazh muawwal adalah lemah (marjuh), sedangkan makna yang terdapat pada lafazh mujmal adalah kuat (rajih).
Jadi dalam hal ini dalam lafazh mutasyabih adalah lemah (marjuh), Al-asnawi menegaskan bahwa lafazh mutsayabih itu tidak mempunyai makna yang kuat. Dari aspek ini, lafazh mutsayabih sama dengan mu’awwal atau mempunyai makna yang sama dari berbagai makna, sehingga dari aspek ini ia termasuk lafazh mujmal. Oleh karena itu, mutsayabih lebih umum daripada lafazh mujmal dan mu’awwal.
E. Takwil (Muawwal)
Secara etimologi berarti At-Tafsir, Al-Marja’, Al-Mashir, sehingga dari sudut bahasa mengandung arti Tafsir (penjelasan, uraian), atau Al-Marja’, Al-Mashir (kembali, tempat kembali), atau Al-Jaza’ (balasan yang kembali kepadanya), Menurut istilah,
”Sesungguhnay takwil itu merupakan ungkapan tentang pengambilan makna dari lafazh yang bersisfat probabilitas yang didukung oleh dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditunjukkan oleh lafaz zhair.” (Imam Ghozali)
”Membawa makna lafazh zhahir yang mempunyai ihtimal (probabilitas) kepada makna lain yang didukung dalil.” (Imam Al-Amudi)
”Memalingkan lafazh dari zhahirnya, karena ada dalil (Wahab Khalaf).
”takwil adalah mengeluarkan lafazh dari artinya yang zhahir kepada makna lain, tetapi bukan zhahir-nya.”(Abu Zarhah).

Menurut Prof. Dr. Mahmud Basuni Faudah, Takwil berarti ungkapan atau penjelasan suatu pandangan.4 Kata takwil dapat ditemukan pada QS. Ali Imran 7, An Nisa 59, Yusuf 44, Yusuf 100. Ulama salaf à menegaskan, takwil adalah:
Menafsirkan kalimat dan menerangkan artinya, baik arti tersebut sama dengan bunyi lahiriah kalimat tersebut, ataupun berlawanan dengannya. (cakupannya: bab ilmu, dan rangkaian kalimat/keterangan seperti tafsiran, komentar, dan penjelasan).
Esensi dari apa yang dikehendaki oleh suatu kalimat. (cakupannya: esensi perkaran-perkara yang didapati di luar, baik terjadi pada masa lampau ataupun yang akan datang).
1. Objek Takwil
Kajian takwil kebanyakan adalah furu’ selain itu juga hal-hal yang jelas dan nash. Kajian takwil tidak mencakup nash-nash yang qath’i baik khusus maupun umum, tidak menyangkut hukum-hukum agama penting lainnya yang mudah ataupun sulit yang dipahami yang merupakan dasar-dasar syari’at, dan tidak mencakup peraturan-peraturan syari’at yang bersifat umum, demikian pula tidak mencakup muzmal yang ditafsirkan dengan dalil-dalil qath’i. Takwil juga tidak membahas lafazh-lafazh yang musytarak, karena lafazh musytarak merupakan lafazh yang ditetapkan untuk dua arti atau lebih yang dilakukan dengan sengaja berdasarkan hakikatnya.

2. Dalil-dalil penunjang takwil
Takwil pada dasarnya mencakup arti yang lemah yang memerlukan dalil untuk memperkuat praduga hasil takwil tersebut, sehingga artinya kuat, sehingga dalil penunjangnya harus lebih kuat daripada dalil penunjang arti secara bahasa.
Semua dalil yang digunakan harus sesuai dengan syara’ dan dianggap hujjah dalam syara’.
Dalil-dalil yang dipakai dalam takwi adalah sebagai berikut:
Nash yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah
Ijma’
Kaidah-kaidah umum syariat yang siambil dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Kaidah-kaidah Fiqh yang menetapkan bahwa pembentuk syariat memperhatikan hal-hal yang bersifat juz’i tanpa batas
Hakikat kemaslahatan umat
Adat yang diucapkan dan diamalkan
hikmah syariat atau tujuan syariat itu sendiri, yang terkadang berupa maksud yang berhubungan dengan kemashlahatan, perekonomian, politik, dan akhlak
Qiyas
Akal yang merupakan sumber perbincangan segala sesuatu (takwil qarib)
Kecendrungan memperluas pematokan hukum untuk berbagai tujuan dan merupakan dasar umum dalam pembinaan syariat yang bersifat ijtihadi, atau ijtihad dengan ra’yu
3. Takwil dihasilkan dari perubahan makna bukan perubahan Lafazh
Setiap mujtahid diharuskan untuk berpegang teguh pada arti zahir yang kuat dan tidak boleh mengamalkan berdasarkan arti lainnya yang dipandang lemah, meskipun sama-sama benar, selama tidak ada dalil lain yang kuat dan sahih.

4. Landasan Takwil
Landasan umum takwil adalah mengamalkan dalil sesuai konteks bahasanya dan mengambil ketetapan hukumnya. Takwil itu mencakup berbagai kemungkinan yang berasal dari akal, bukan bersumber dari bahasa. Takwil tidak akan ada kecuali dengan dalil.
Untuk menghindarkan dari kesalahan dalam berijtihad, juga sebagai cara meng-istimbath hukum dari nash dengan menggunakan takwil
jika arti nash itu sudah tentu mengandung hukum, jelas dan dalalahnya qath’i, maka tidak boleh ditakwilkan dengan akal.
Jika arti nash yang zahir itu berarti umum, atau berarti zhanni yang tidak pasti, wajib mengamalkan sesuai maknanya.
Dibolehkan mengubah arti dari yang zahir kepada arti yang lain sepanjang berdasar pada dalil, bahkan diwajibkan untuk untuk mengompromikan berbagai nash yang saling bertentangan.
5. Syarat Takwil
Adapun sayat takwil adalah :
Lafaz yang ditakwil, harus betul-betul memenuhi kriteria dan masuk dalam kajiannya. Dalam hal ini dalil-dalil yang yang telah ditafsirkan tidak bisa ditakwil. Menurut Hanafiayah takwil itu boleh sekalipun pada nash yang zahir dan semua dalil yang berhubungan dengan syariat islam.
Takwil harus berdasar dalil shahih yang bisa menguatkan takwil
Takwil berdasarkan dalil adalah Maslahat
“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh”
Jadi “Dan ibu-ibu yang tidak sakit untuk menyusui anak-anak mereka sesuai kebiasaan adat, maka mereka menyusui anak mereka”
Penetapan harga ketika negara sedang dalam krisis karena seperti itu berlandaskan pada kemaslahatan umum.
Mentaksis keadaan umum dengan kemaslahatan
Keadaan umum maksudnya kemerdekaan umum atau dasar kebolehan sesuai firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 29.
“Dia-lah yang telah menjadikan untuk kamu semua apa-apa yang ada di bumi”
Diantaranya kemerdekaan jual beli, Rasulullah mengkhususkan kemerdekaan tersebut dalam muamalah dengan melarang jual beli yang menggambarkan adanya penghinaan terhadap makanan, demikian pula larangan jual beli gharar dan yang mengandung riba.
Lafazh mencakup arti yang dihasilkan melalui takwil melalui bahasa. Penakwilan menurut bahasa dilakukan dengan cara tekstual, kontekstual, atau majaz, bisa juga menckup azas yang berasal dari pemakian yang sudah dikenal atau adat syara’
Takwil tidak boleh bertentangan dengan nash yang qath’i karena nash tersebut bagian dari aturan syara’ yang umum
Arti dari dari penakwilan nash harus lebih kuat dari arti zhahir, yakni dikuatkan dengan dalil.
“…apabila kamu hendak mengerjakan sholat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampi siku..”
Arti zahir dari ayat tersebut adalah mengharuskan berwudhu setelah mengerjakan sholat. Pemahaman seperti ini bertentangan dengan starat sahynya sholat yang mengharuskan berwudhu terlebih dahulu. Dan sayarat itu harus didahulukan, baik menurut akal maupun syara’ agar sholatnya sah.

F. Khas
Pegertiannya adalah “suatu lafazh yang dipasangkan pada suatu arti yang sudah diketahui (ma’lum) dan manunggal”
“Setiap lafazh yang dipasangkan pada suatu arti yang menyendiri, dan terhindar dari makna lain yang (musytarak).” (Al-Bazdawi).
Lafazh yang terdapat pada nash syara’ menunjukkan suatu makna tertentu dengan pasti selama tidak ada dalil yang mengubah maknanya itu. Menurut Hanafiyah, sesungguhnya lafaz khas sepanjang telah memiliki arti secara tersendiri, berarti ia sudah jelas dan tegas dengan ketentuan lafazh-lafazh itu sendiri.
Contoh, dalam Al-qur’an “Ruku’lah bersama orang-orang yang ruku”. Hanafiyah memandang bahwa ruku’ dalam sholat itu sebagai mana lafaz khas untuk suatu perbuatan yang ma’lum, yaitu condong dan berdiri tegak. Ruku’ yang diperintahkan itu merupakan fardhu sholat tanpa tuma’minah, sebaliknya ad hadis yang memerintahkan tuma’minah, “Berdirilah dan sholatlah karena engkau belum sholat.” Menurut mereka bila tuma’minah itu syarat sah sholat, berarti merupakan penambahan atas lafazh kkas Al-Qur’an yang jelas. Sehingga tuma’minah tidak fardu. Semetara menurut Golongan Syafi’i, tuma’minah yang disyaratkan oleh hadis ini merupakan penjelasan terhadap ayat Al-Qur’an dan termasuk fardu dalam ruku’.
Lafas Khas kadang-kadang berbentuk mutlaq (tanpa dibatasi oleh suatu syarat qayyid apapun), muqayyad (dibatasi oleh qayyid), amr (berbentuk perintah), dan nahy (berbentuk larangan).
G. ‘Amm
Lafazh ‘amm mempunyai tingkat yang luas, yaitu suatu makna yang mencakup seluruh satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu.
“Setiap lafazh yang mencakup banyak, baik secara lafazh maupun makna” (Hanafiyah), “Suatu lafazh yang dari suatu segi menunjukkan dua makna atau lebih” (Al-Ghazali), “Lafazh yang mencakup semua yang cocok untuk lafazh tersebut dalam satu kata” (Al-Bazdawi).
Suatu lafazh ‘amm yang disertai qarinah (indikasi) yang menunjukkan penolakan adanya takhsis adalah qath’i dilalah, dan yang disertai qarinah yang menunjukkan yang dimaksud itu khusus, mempunyai dilalah yang khusus pula.
Menurut Hanafiyah, pada lafazh ‘amm itu, kehendak makna umumnya jelas, tegas dan tidak memerlukan penjelasan, oleh karena itu Hanafiyah tidak mewajibkan tertib dalam berwudhu, karena dalam Al-Maidah ayat 6 sudah cukup jelas dan tegas tidak memerintahkan tertibnya berwudhu. Sedangkan Jumhur Ulama mewajibkan tertib dalam berwudhu berdasar hadis:
“Allah tidak menerima sholat seseorang sehingga ia bersuci sesuai tempatnya (tertib pelaksanaannya), maka hendaklah ia membasuh wajahnya kemudian dua tangannya”. Hadits ini menunjukkan keharusan tertib dalam berwudhu, sementara menurut Hanafiyah, tertib itu hanya sunat mu’akadah saja.
Sedangkan Imam Malik, tidak selamanya menjadikan khabar Ahad dapat mentakhsis lafazh ’amm Al-Qur’an walaupun memandang lafazh ‘amm Al-Qur’an adalah zhanni. Ia kadang-kadang berpegang pada lafazh ‘amm Al-Qur’an dan meninggalkan khabar ahad, namun kadang-kadang mentakhsis lafazh ‘amm Al-Qur’an dengan khabar Ahad. Seperti :
“Dan Allah menghalakan (menikah) selain itu (yang telah disebut)” ditakhsis dengan hadits “Wanita yang dilarang dinikahi, adalah bibinya, baik dari pihak ayah maupun ibu.”
Khabar Ahad yang dapat digunakan untuk mentakhsis lafazh ‘amm Al-Qur’an menurut Imam Malik adalah Khabar Ahad yang didukung oleh perbuatan penduduk Madinah atau dengan Qiyas.
Menurut Hanafiyah, bila lafazh ‘amm dan khas itu berbarengan waktu turunnya, maka lafazh khas dapat mentakhsis lafazh ‘amm. Apabila berbeda waktu, maka berlaku konsep masakh mansukh.
H. Amr (Perintah)
Amr adalah tuntutan dari atasan kepada bawahan untuk mengerjakan suatu pekerjaan, demikan definisi Jumhur Ulama. Definisi ini ditujukan pada semua kalimat yang mengandung perintah, karena kalimat perintah itu terkadang menggunakan kalimat majazi (samar).
Ada tiga pendapat tentang amr ini, yaitu
Amr itu secara hakikat menunjukkan wajib dan tidak bisa berpaling pada arti lain, kecuali bila ada qarinah (Al-Maidi, Asy-Syafii, para fuqaha, dan kaum mutakalimin).
Hakikat amr itu adalah nadb menurut mazhab Abu Hasyim dan sekelompok mutakllimin dari kalangan Mu’tazilah).
Amr itu musytarak antara wajib dan nadb, menurut pendapat Abu Mansur Al-Maturidi
Amr itu maknanya bergantung pada dalil yang menunjukkan maksudnya menurut Qadi Abu Bakar, Al-Ghazali, dll.
I. Nahayi (Larangan)
Nahyi adalah kebalikan dari Amr yakni lafazh yang menunjukkan tuntutan untuk meninggalkan sesuatu (tuntutan yang mesti dikerjakan) dari atasan kepada bawahan.
”Dan apa-apa yang Rasul datangkan (perintahkan) kepada kamu semua taatilah, dan apa-apa yang dilarang kepada kamu semua jauhilah.” (Al-Hasyr ayat 7)
Hakikat dalalah nahyi adalah untuk menuntut meninggalkan sesuatu, tidak bisa beralih makna, kecuali bila ada suatu qarinah (Abdul Aziz Al-Bukhari)
J. Mutlaq dan Muqayyad
Mutlaq adalah suatu lafazh yang menunjuk hakikat sesuatu tanpa pembatasan yang dapat mempersempit keluasan artinya, sedangkan muqayyad adalah suatu lafazh yang menunjukkan hakikat sesuatu yang dibatasi dengan suatu pembatasan yang mempersempit keluasan artinya.
1. Bentuk-bentuk mutlaq dan muqayyad
Kaidah lafazh mutlaq dan muqayyad dapat dibagi dalam lima bentuk:
Suatu lafazh dipakai dengan mutlaq pada suatu nash, sedangkan pada nash lain digunakan dengan muqayyad; keadaan ithlaq dan taqyid-nya bergantung pada sebab hukum.
Lafazh mutlaq dan muqayyad berlaku sama pada hukum dan sebabnya.
Lafazh mutlaq dan muqayyad yang berlaku pada nash itu berbeda, baik dalam hukumnya ataupun sebab hukumnya.
Mutlaq dan muqayyad berbeda dalam hukumnya, sedangkan sebab hukumnya sama.
Mutlaq dan muqayyad sama dalam hukumnya, tetapi berbeda dalam sebabnya.
2. Hukum Lafazh Mutlaq dan Muqayyad
Pada prinsipnya para ulama sepakat baik hukum lafazh mutlaq maupun hukum lafazh muqayyad itu wajib diamalkan kemutlakannya maupun kemuqoyyadannya. Namun dari lima bentuk tersebut, ada yang disepakati dan ada yang diperselisihkan. Yang disepakati ialah:
Hukum dan sebabnya sama, disini para ulama sepakat bahwa wajibnya membawa lafazh mutlaq kepada muqayyad.
Hukum dan sebabnya berbeda, dalam hal ini, para ulama sepakat wajibnya memberlakukan masing- masing lafazh, yakni mutlaq tetap pada kemutlakannya dan muqayyad tetap pada kemuqayyadannya.
Hukumnya berbeda sedangkan sebabnya sama. Pada bentuk ini, para ulama sepakat pula bahwa tidak boleh membawa lafazh mutlaq kepada muqayyad, masing-masing tetap berlaku pada kemutlakannya dan kemuqayyadannya.
3. Hal- hal yang Diperselisihkan dalam mutlaq dan muqayyad
Kemuthlaqan dan kemuqayyadan terdapat pada sebab hukum. Namun, masalah (maudu’) dan hukumnya sama. Menurut Jumhur ulama dari kalangan Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanafiyah, dalam masalah ini wajib membawa mutlaq Kepada muqayyad. Oleh sebab itu, mereka tidak mewajibkan zakat fitrah kepada hamba sahaya. Sedangkan ulama hanafiyah tidak mewajibkan membawa lafazh mutlaq dan muqayyad.Oleh sebab itu, ulama Hanafiyah mewajibkan zakat fitrah atas hamba sahaya secara mutlaq.
Mutlaq dan muqayyad terdapat pada nash yang sama hukumnya, namun sebabnya ber-beda. Masalah ini juga diperselisihkan. Menurut ulama Hanafiyah tidak boleh membawa mutlaq pada muqayyab, melainkan masing-masingnya berlakusesuai dengan sifatnya.Oleh sebab itu, ulama Hanafiyah, pada kafarat zihar tidak mensyaratkan hamba mukmin. Sebaliknya, menurut jumhur ulama, harus membawa mutlaq kepada muqayyab secara mutlak. Namun menurut sebagian ulama Syafi’iyah, mutlak dibawa pada muqayyab apabila ada illat hukum yang sama, yakni dengan jalan qiyas. (Al-Amidi, 1968 : II : 112)
K. Mantuq Dan Mafhum
Dilalah mantuq didefinisikan sebagai petunjuk lafazh pada hukum yang disebut oleh lafazh itu sendiri. Dalam hal ini meliputi tiga dilalah yang dipakai dalam istilah Hanafiyah, yaitu ibarat, isyarat, dan iqtida nash.
Sedangkan dilalah mafhum ialah petunjuk lafazh pada suatu hukum yang tidak disebutkan oleh lafazh itu sendiri, melainkan datang dari pemahaman. Dilalah mafhum tersebut dalam istilah Hanafiyah disebut dilalah nash.

1. Mafhum
Selanjutnya mafhum terbagi menjadi mafhum muwafadah dan mafhum mukhalafah.
Mafhum muwafaqah adalah suatu petunjuk kalimat yang menunjukkan bahwa hukum yang tertulis pada kalimat itu berlaku pada masalah yang tidak tertulis, dan hukum yang tertulis ini sesuai dengan masalah yang tidak tertulis karena ada persamaan dalam maknanya. Hal ini dapat diketahui dengan pengertian bahasa, tanpa memerlukan pembahasan yang mendalam ataupun ijtihad. Mafhum muwafaqah dikenal pula dengan nama fahwa al-khitab (untuk masalah tak tertulis, petunjuk yang ditekankan oleh lafazh) dan lahn al-khitab (untuk masalah yang sama tingkat hukumnya dengan masalah lain yang tidak tertulis, petunjuk yang terpancar dari lafazh). Disebut mafhum muwafaqah karena hukumnya yang tidak tertulis sesuai dengan hukum yang tertulis
Mafhum al-mukhalafah adalah petunjuk lafazh yang menunjukkan bahwa hukum yang lahir dari lafazh itu berlaku bagi masalah yang tidak disebutkan dalam lafazh itu, yang hukumnya bertentangan dengan hukum yang lahir dari mantuq-nya, karena tidak adanya batasan (kayd) yang berpengaruh dalam hukum. (Lihat Ibnu Al-Hajib jilib II hal.172, al-Amidi jilid II:99, Al-Mahalli,I:245 dan Zakiyuddin Sya’ban:43). Mafhum mukhalafah disebut juga dalil khitab. Suatu dilalah dinamakan mafhum mukhalafah karena hukum yang disebutkan berbeda dengan hukum yang tidak disebut
Ulama Hanafiyah tidak memandang mafhum mukhalafah sebagai salah satu metode penafsiran nash-nash syara’. Tegasnya menurut mereka, mafhum mukhalafah itu bukan suatu metode untuk penetapan hukum. Alasannya :
1. Sesungguhnya banyak nash syara’ yang apabila diambil mafhum mukhalafah akan rusak pengertiannya, antara lain seperti ayat mengatakan bahwa berbuat zalim diharamkan hanya pada empat bulan tersebut saja, sedangkan diluar itu tidak haram. Padahal berbuat zalim itu diharamkan pada tiap saat.
2. Sifat- sifat yang terdapat pada nash syara’, dalam banyak hal bukan untuk pembatasan hukum, melainkan untuk targib dan tarhib. Misalnya ayat yang mengatakan Sifat anak tiri, adalah anak tiri yang ada dalam pemeliharaan. Apabila diambil mafhum mukhalafah-nya, hal itu berarti mengawini anak tiri yang diluar pemeliharaan adalah halal. Padahal syara’ tetap mengharamkan.
3. Seandainya mafhum mukhalafahnya itu dapat dijadikan hujjah syara’ maka suatu nash yang telah menyebut suatu sifat tidak perlu lagi disebut nash yang menerangkan hukum kebalikan hukum dari sifat tersebut. Pada kenyataannya penyebutan seperti itu banyak ditemukan.
Menurut jumhur ushuliyyin, mfhum mukhalafah dapat dijadikan sebagai hujjah syara’. Alasannya antara lain :
1. Berdasarkan logika, setiap syarat atau sifat tidak mungkin dicantumkan tanpa tujuan dan sebab. Sebabnya itu tidak lain adalah untuk qayyid (pembatasan) hukum selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa dicantumkannya suatu sifat itu untuk tarqib, tarhib, dan tanfir.
2. Sikap Rasulullah yang tidak menyalahkan Umar Ibnu Khathab dalam memahami mafhum mukhalafah dari ayat 101 An-Nisa’ Namun, Rasulullah menjelaskan bahwa qasar shalat dalam perjalanan diperbolehkan sekalipun dalam keadaan aman.
Dengan sayarat :
1. Mafhum mukhalafah-nya itu tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat, seperti Mantuq atau mafhum muwafaqah.
2. Qayid atau pembatasan yang terdapat pada suatu nash tidak berfungsi yang lain.
3. Tidak ada dalil khusus yang membatalkan mafhum mukhalafah itu, seperti ayat:
“Laki-laki tidak wajib diqisas apabila ia membunuh wanita, dibatalkan dengan ayat 45 surat Al-Ma’idah, dan hadis”.(Abu Zahrah : 152)
Apabila qayid dalam hukum mantuq berlaku pada mafhum mukhalafah maka mafhum mukhalafah ini bisa terdiri atas bermacam-macam qayid. Al-Amidi menghitung jumlah mafhum itu sebanyak sepuluh macam, yaitu: mafhum sifat, mafhum illat, mafhum syarat, mafhum a’dad, mafhum gayah, mafhum hasr, mafhum hal, mafhum zaman, dan mafhum makna. Asy-Syaukani juga menyebutkan mafhum mukhalafah seperti itu, namun ia memasukkan ketiga mafhum yang disebut terakhir pada mafhum sifat. (Asy-Syaukani, 1973: 181-183).